<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SUB BAGIAN PROGRAM</title>
	<atom:link href="http://diskeskabtasik.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://diskeskabtasik.wordpress.com</link>
	<description>DINAS KESEHATAN KABUPATEN TASIKMALAYA</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Jul 2010 07:15:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='diskeskabtasik.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>SUB BAGIAN PROGRAM</title>
		<link>http://diskeskabtasik.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://diskeskabtasik.wordpress.com/osd.xml" title="SUB BAGIAN PROGRAM" />
	<atom:link rel='hub' href='http://diskeskabtasik.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>PELAYANAN KESEHATAN DASAR</title>
		<link>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/07/22/pelayanan-kesehatan-dasar-2/</link>
		<comments>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/07/22/pelayanan-kesehatan-dasar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 07:15:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DINAS KESEHATAN KABUPATEN TASIKMALAYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[PROFIL KESEHATAN 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diskeskabtasik.wordpress.com/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[KUNJUNGAN PASIEN KE PUSKESMAS TAHUN 2009 Kunjungan rawat jalan di 40 Puskesmas : - Tahun 2008 : 950.697 kunjungan (rata-rata kunjungan per puskesmas per hari : 72 kunjungan) - Tahun 2009 : 1.048.612 kunjungan (rata-rata kunjungan per puskesmas per hari : 40 kunjungan) Kunjungan rawat inap di 8 puskesmas DTP : - Tahun 2008 : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=260&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KUNJUNGAN PASIEN KE PUSKESMAS TAHUN 2009</strong></p>
<p>Kunjungan rawat jalan di 40 Puskesmas :</p>
<p>- Tahun 2008 : 950.697 kunjungan (rata-rata kunjungan per puskesmas per hari : 72 kunjungan)</p>
<p>- Tahun 2009 : 1.048.612 kunjungan (rata-rata kunjungan per puskesmas per hari : 40 kunjungan)</p>
<p>Kunjungan rawat inap di 8 puskesmas DTP :</p>
<p>- Tahun 2008 : 9.261 orang (rata-rata setiap puskesmas DTP melayani 1.158 pasien rawat inap dalam satu tahun)</p>
<p>- Tahun 2009 : 14.758 orang (rata-rata setiap puskesmas DTP melayani 984 pasien rawat inap dalam satu tahun)</p>
<p><strong>PELAYANAN IBU HAMIL DI PUSKESMAS</strong></p>
<p>Kunjungan pemeriksaan kehamilan tahun 2009 : 46.276 orang ibu hamil</p>
<p>- Kunjungan pertama (K1) : 90,59%</p>
<p>- Kunjungan berikutnya (K4) : 78,87%</p>
<p><strong>PELAYANAN PERSALINAN</strong></p>
<p>Jumlah ibu hamil tahun 2009 : 46.276 orang</p>
<p>jumlah persalinan : 43.261 persalinan</p>
<p>Dari seluruh persalinan yang terjadi, persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan</p>
<p><strong>RUJUKAN IBU HAMIL RISIKO TINGGI</strong></p>
<p>Dari 46.276 ibu hamil yang ada terdapat 6.949 ibu hamil (15,01%) memiliki risiko tinggi dan diantaranya sebanyak 282 ibu hamil (0,88%) yang berisiko tinggi tersebut sampai dilakukan rujukan.</p>
<p><strong>KUNJUNGAN NEONATUS</strong></p>
<p>Cakupan kunjungan neonatal (KN) adalah prosentase neonatal (bayi kurang dari satu bulan) yang memperoleh pelayanan kesehatan minimal dua kali dari tenaga kesehatan satu kali pada umur 0-7 hari dan satu kali pada umur 8-28 hari.</p>
<p>Cakupan kunjungan neonatal yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya :</p>
<p>- Tahun 2006 : 70,91%</p>
<p>- Tahun 2007 : 75,77 %</p>
<p>- Tahun 2008 : 77,78%</p>
<p>- Tahun 2009 : 88,11% dari jumlah neonatus sebanyak 41.201 orang</p>
<p><strong>KUNJUNGAN BAYI</strong></p>
<p>Cakupan kunjungan bayi di Kabupaten Tasikmalaya :</p>
<p>- Tahun 2008 : 76,59% (dari 38.113)</p>
<p>- Tahun 2009 : 77,53% (dari 41.201)</p>
<p><strong>PESERTA KB AKTIF</strong></p>
<p>Cakupan peserta KB aktif di Kabupaten Tasikmalaya :</p>
<p>- Tahun 2008 : 78,25%</p>
<p>- Tahun 2009 : 73,77%</p>
<p>Jumlah peserta KB baru : 69.094 orang (18,96%)</p>
<p>Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) : 364.431 orang</p>
<p>Peserta KB aktif sebanyak 147.758 orang (54,96%)</p>
<p>Metode kontrasepsi terpilih untuk peserta KB Aktif pada tahun 2009 :</p>
<p>- Suntik : 147.758 peserta (54,96%)</p>
<p>- Pil : 78.110 peserta (29,05%)</p>
<p>- IUD : 23.292 peserta (8,66%)</p>
<p>- Implan : 8.748 peserta (3,25%)</p>
<p>- MOP/MOW : 5.193 peserta (1,93%)</p>
<p>Prosentase pencapaian peserta KB aktif tertinggi terdapat di Kecamatan Karangnunggal  sebesar 15.077% dan terendah terdapat di Kecamatan Karangjaya 1,985%, sedangkan jumlah per kecamatan rata-rata di Kabupaten Tasikmalaya sekitar 6.893 peserta.</p>
<p><strong>PESERTA KB BARU</strong></p>
<p>Akseptor KB baru :</p>
<p>- Tahun 2008 : 78.302 orang</p>
<p>- Tahun 2009 : 69.094 orang</p>
<p>Jenis kontrasepsi yang dipilih peserta :</p>
<p>- Suntik : 56,56%</p>
<p>- Pil : 30,52%</p>
<p>- IUD : 3,34%</p>
<p>- Implant : 8,50%</p>
<p>- MOV/MOW : 0,43%</p>
<p><strong>CAKUPAN VITAMIN A</strong></p>
<p>Upaya penanggulangan masalah kurang vitamin A masih bertumpu pada pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada anak balita, bayi dan ibu nifas. Pemberian vitamin A ini diharapkan dapat memberikan peran pada integritas sel epitel, immunitas dan reproduksi, bahakan diharapkan dapat mencegah kematian pada anak balita.</p>
<p>Cakupan pemberian vitamin A  untuk tahun 2007 pada balita sebesar 58,86% sedangkan pada ibu nifas mencapai 65,97%. Sedangkan pada tahun 2008 pemberian Vitamin A pada Balita sebanyak 219.036 (63,72%) dan untuk ibu nifas sebanyak 33.395 (70,77%) meningkat apabila dibandingkan dengan tahun 2007 yang hanya  mencapai 65,97%.</p>
<br />Filed under: <a href='http://diskeskabtasik.wordpress.com/category/profil-kesehatan-2009/'>PROFIL KESEHATAN 2009</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diskeskabtasik.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diskeskabtasik.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diskeskabtasik.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diskeskabtasik.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diskeskabtasik.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diskeskabtasik.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diskeskabtasik.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diskeskabtasik.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diskeskabtasik.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diskeskabtasik.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diskeskabtasik.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diskeskabtasik.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diskeskabtasik.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diskeskabtasik.wordpress.com/260/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=260&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/07/22/pelayanan-kesehatan-dasar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c2d6e522e6b403e93c97a7448e73abd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SUBAG_PROGRAM</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HUBUNGAN LINGKUNGAN RUMAH DENGAN KEJADIAN DIFTERI PADA KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) DIFTERI DI KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2005 – 2006 DAN DI KABUPATEN GARUT BULAN JANUARI TAHUN 2007</title>
		<link>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/05/10/hubungan-lingkungan-rumah-dengan-kejadian-difteri-pada-kejadian-luar-biasa-klb-difteri-di-kabupaten-tasikmalaya-tahun-2005-%e2%80%93-2006-dan-di-kabupaten-garut-bulan-januari-tahun-2007/</link>
		<comments>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/05/10/hubungan-lingkungan-rumah-dengan-kejadian-difteri-pada-kejadian-luar-biasa-klb-difteri-di-kabupaten-tasikmalaya-tahun-2005-%e2%80%93-2006-dan-di-kabupaten-garut-bulan-januari-tahun-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 14:54:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DINAS KESEHATAN KABUPATEN TASIKMALAYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Riset & Penelitian Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diskeskabtasik.wordpress.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Tesis : Basuki Kartono, SKM, MKM. Universitas Indonesia 2007 Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia Tesis ini dapat juga diakses pada http://journal.ui.ac.id/?hal=detailArtikel&#38;q=398 ABSTRAK Telah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Kabupaten Tasikmalaya yang terjadi pada kelompok umur 1 – 15 tahun sebanyak 55 anak (15 kasus meninggal, AR = 0,45% dan CFR = [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=249&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tesis : Basuki Kartono, SKM, MKM.</strong></p>
<p><strong>Universitas Indonesia 2007</strong></p>
<p><strong>Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia</strong></p>
<p>Tesis ini dapat juga diakses pada http://journal.ui.ac.id/?hal=detailArtikel&amp;q=398</p>
<p><strong>ABSTRAK</strong></p>
<p>Telah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Kabupaten Tasikmalaya yang terjadi pada kelompok umur 1 – 15 tahun sebanyak 55 anak (15 kasus meninggal, AR = 0,45% dan CFR = 31,91%). Pada Januari 2007 juga telah terjadi KLB difteri di Kabupaten Garut pada kelompok umur kasus 2 – 14 tahun sebanyak 17 anak (2 kasus meningal, CFR = 11,76%, AR = 1,5%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkungan rumah dengan kejadian difteri pada Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri tersebut. Penelitian menggunakan desain kasus kontrol. Kasus adalah anak usia 1 – 15 tahun yang dinyatakan sebagai penderita difteri maupun karier berdasarkan hasil diagnosis klinis atau hasil pemeriksaan laboratorium yang tercatat pada register rawat jalan atau rawat inap di puskesmas atau rumah sakit yang berasal dari 15 desa lokasi KLB difteri sebanyak 72 anak. Kontrol adalah anak usia 1 – 15 tahun yang bukan penderita atau karier difteri berasal dari 1 desa terpilih secara random yang bukan dari kecamatan lokasi KLB difteri sebanyak.72 anak. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dengan ibu anak pada kelompok kasus maupun kelompok kontrol menggunakan kuesioner untuk mendapatkan data lingkungan rumah, sumber penularan, status imunisasi dan pengetahuan ibu. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan bermakna dengan kejadian difteri adalah kepadatan hunian ruang tidur (nilai <em>p </em>= 0,003,  OR = 15,778), kelembaban dalam rumah (nilai <em>p </em>= 0,041, OR = 18,672), jenis lantai rumah (nilai <em>p </em>= 0,003, OR = 15,790), sumber penularan (nilai <em>p </em>= 0,001, OR = 20,821), status imunisasi (nilai <em>p </em>= 0,000, OR = 46,403) dan pengetahuan ibu (nilai <em>p </em>= 0,007, OR = 9,826). Disimpulkan bahwa lingkungan rumah, pengetahuan ibu dan sumber penularan bukanlah faktor utama yang mempengaruhi terjadinya difteri, sedangkan yang paling dominan dalam mempengaruhi kejadian difteri adalah status imunisasi, yaitu risiko terjadinya difteri pada status imunisasi DPT dan DT yang tidak lengkap 46,403 kali lebih besar dibandingkan dengan status imunisasi yang lengkap. Untuk itu disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut agar lebih meningkatkan pencapaian imunisasi lengkap baik DPT maupun DT disamping meningkatkan pengetahuan tentang imunisasi dan penyakit difteri terutama kepada ibu-ibu dan peningkatan kualitas lingkungan rumah.</p>
<p>Kata Kunci : difteri, KLB, lingkungan rumah</p>
<p>Daftar bacaan : 34 (1964 – 2007)</p>
<table width="100%">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Abstract</strong></td>
</tr>
<tr>
<td align="justify">The impact of housing environmental condition on  the diphtheria out break in district of Tasikmalaya (2005-2006) and  Garut (2007) West Java. Since 2005 up to 2006 diphtheria out break had  occur in Tasimalaya District among 1 – 15 year old children. Total cases  are 55 children with cases died with the Case Fatality Rate (CFR)  31.91%. Further on, January 2007 the same out break occur in Garut  District, with 17 cases and 2 cases died (CFR 11.76%). Research  objective is to identify the correlation of housing environmental  condition with the diphtheria out break. Design study was case control  study. The amount of 72 cases had taken from the 15 villages on the out  break areas and the same amount (72) non cases taken from the village  out of the out break areas. Data were collected through interviewed with  structure questioner with the mother as the respondent. Data collected  were housing environment, the source of infection, immunization status,  and mother knowledge concerning the diphtheria. Research conclude that  factors involved in diphtheria out break are housing member room  density, housing humidity, quality of the floor, the source of the  infection, immunization status of the children, and mother knowledge  about the disease. The importance factors for the diphtheria out break  are immunization status, with the OR of 46.403 greater of non  immunization children compare with those had immunization. Therefore  immunization program should be further intensified in order to give  fully diphtheria protection for the hole children population in those  areas.</td>
</tr>
<tr>
<td align="left">
<em>keywords: diphtheria, out break, housing  environment</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2003, pada tahun 2003 terjadi 54 KLB dengan jumlah kasus sebanyak 86 dan CFR sebesar 23% (Depkes R.I., 2005). Di Propinsi Jawa Barat pada tahun 2003 terjadi KLB Difteri pada 3 kabupaten dengan jumlah penderita 17 orang, 6 orang diantaranya meningal (AR = 0,05%, CFR = 35,29%), pada tahun 2004 terjadi peningkatan jumlah penderita Difteri sebesar 229 orang (Dinkes Prop. Jawa Barat, 2003, 2004). Dari Profil Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya sampai dengan tahun 2004 belum pernah ditemukan kasus difteri maupun KLB Difteri di Kabupaten Tasikmalaya (Diskes Kab. Tasikmalaya, 2000, 2001, 2002, 2003 dan 2004).</p>
<p>Di Kabupaten Tasikmalaya pada akhir bulan Januari 2005 telah ditemukan kasus kematian akibat penyakit difteri pada seorang anak usia 5 tahun dari Desa Cikubang Kecamatan Taraju, berdasarkan investigasi lapangan diperoleh informasi bahwa sebelumnya dari kampung yang sama terdapat juga seorang anak usia 10 tahun yang meningal dengan gejala serupa. Hasil pemeriksaan apus tenggorok terhadap 2 anak teman sepermainan kedua korban tersebut dinyatakan positip difteri. Dari saat inilah Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Kabupaten Tasikmalaya di mulai. Selama tahun 2005 tercatat penderita difteri sebanyak 22 orang diantaranya 8 orang meninggal dan ditemukan 6 orang karier yang tersebar pada 4 kecamatan yang berdekatan, yaitu Kecamatan Taraju, Kecamatan Sodonghilir, Kecamatan Bojongasih dan Kecamatan Karangnunggal selain itu juga ditemukan penderita di dua kecamatan lain (Ciawi dan Rajapolah). Pada tahun 2006 lokasi penderita difteri bertambah dengan Kecamatan Bantarkalong (yang masih berdekatan dengan keempat kecamatan lokasi KLB difteri sebelumnya) dengan jumlah penderita sebanyak 21 orang 5 orang diantaranya meninggal dan diketemukan 2 orang karier. Dengan demikian dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2006 tercatat penderita difteri berjumlah 47 orang, 15 orang diantaranya meningal dan ditemukan 8 orang karier (CFR = 31,91%, AR = 0,45%). Umur penderita Difteri antara 1 tahun sampai dengan 14 tahun. Sedangkan daerah lokasi KLB Difteri tersebar di 14 desa pada 7 lokasi kecamatan tersebut di atas.</p>
<p>Berdasarkan laporan hasil penyelidikan epidemiologi pada tanggal 12 sampai dengan 13 Januari 2007 di Desa Cintanagara Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut telah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit difteri. Jumlah penderita difteri berdasarkan pemeriksaan klinis 11 anak dan berdasarkan pemeriksaan laboratorium diketahui 6 anak positip difteri, diantaranya 2 anak meninggal dunia (CFR = 11,76%, AR = 1,5%). Umur penderita antara 2 sampai dengan 14 tahun.</p>
<p>Dengan demikian pada Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2005 – 2006 dan Kabupaten Garut pada Januari 2007, jumlah kasus sebanyak 72 anak diantaranya 17 anak meninggal dunia (CFR = 23,6%, AR = 0,54%).</p>
<p>Menurut penelitian yang dilakukan oleh Vensya (2002) beberapa faktor yang berkaitan dengan kejadian difteri adalah kepadatan serumah, kepadatan hunian kamar tidur dan adanya sumber penularan. Menurut Soedarmo dalam Depkes (2003) faktor risiko lingkungan rumah dalam penularan penyakit difteri meliputi : kepadatan hunian kamar tidur, ventilasi dan pencahayaan alami.</p>
<p>Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya dan Garut tahun 2005, rata-rata persentase rumah yang memenuhi syarat di lokasi KLB difteri hanya di Kabupaten Tasikmalaya rata-rata hanya 51%.</p>
<p><strong>METODE</strong></p>
<p><strong>Rancangan penelitian</strong>. Jenis penelitian ini adalah kasus kontrol, yaitu akan menguji hubungan antara paparan berupa faktor lingkungan rumah (pencahayaan alami dalam rumah, luas ventilasi rumah, kepadatan hunian ruang tidur, suhu dalam rumah, kelembaban dalam rumah, jenis dinding dan jenis lantai rumah), status imunisasi, sumber penularan dan pengetahuan ibu tentang imunisasi dan difteri dengan kejadian difteri.</p>
<p><strong>Lokasi penelitian</strong>. Lokasi Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Kabupaten Tasikmalaya tahun 2005 – 2006 adalah Desa Cikubang, Desa Raksasari Kecamatan Taraju; Desa Parumasan, Desa Cukangkawung Kecamatan Sodonghilir; Desa Sindangsari, Desa Bojongasih, Desa Mertajaya Kecamatan Bojongasih; Desa Kujang, Desa Pasirmuncang Kecamatan Karangnunggal, Desa Pamijahan, Desa Hegarwangi, Desa Simpang dan Desa Pamijahan Kecamatan Bantarkalong, Desa Kiarakuda Kecamatan Ciawi dan Desa Sukaraja Kecamatan Rajapolah. Sedangkan lokasi KLB difteri di Kabupaten Garut pada bulan Januari 2007 adalah Desa Sukanagara Kecamatan Cigedug.</p>
<p><strong>Waktu penelitian</strong>. Bulan Mei 2007 sampai dengan  Juni 2007.</p>
<p><strong>Besar sampel</strong>. Jumlah sampel (n) minimal digunakan <em>software sample size 2.0</em> (Lemeshow dan Lwanga, 1997) sebesar 62.</p>
<p><strong>Populasi</strong>. Anak usia antara 1 – 15 tahun yang tinggal di 14 desa lokasi Kejadian Luar Biasa Difteri di Kabupaten Tasikmalaya dan 1 desa lokasi KLB difteri di Kabupaten Garut.</p>
<p><strong>Sampel kasus</strong>. Anak usia 1 – 15 tahun yang dinyatakan sebagai penderita difteri maupun karier berdasarkan hasil diagnosis klinis atau hasil pemeriksaan laboratorium yang tercatat pada register rawat jalan atau rawat inap di puskesmas atau rumah sakit yang berasal dari 7 kecamatan lokasi Kejadian Luar Biasa difteri di Kabupaten Tasikmalaya dari tahun 2005 – 2006 dan dari 1 kecamatan di Kabupaten Garut pada bulan Januari 2007, dengan jumlah keseluruhan sebanyak 72 kasus.</p>
<p><strong>Sampel kontrol</strong>. Anak usia 1 – 15 tahun yang bukan penderita atau karier difteri berasal dari 1 desa terpilih secara random yang bukan dari kecamatan lokasi KLB difteri di Kabupaten Tasikmalaya dari tahun 2005 – 2006 maupun desa lokasi KLB difteri di Kabupaten Garut pada bulan Januari 2007, dengan jumlah sampel sebanyak 72 kontrol.</p>
<p><strong>Instrumen</strong>. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner tertutup. Kelembaban diukur dengan higrometer dan suhu menggunakan termometer ruang. Untuk menguji validitas dan realibilitas kuesioner telah dilakukan uji coba terhadap 20 responden di luar populasi penelitian.</p>
<p><strong>Analisis data</strong>. Analisis univariat (distribusi frekuensi dan proporsi variabel), analisis bivariat (mengetahui kemaknaan dan besarnya hubungan masing-masing variabel, menggunakan uji <em>chi-square </em>(<em>X</em>²) pada α = 5%, analisis multivariat (mengetahui keeratan dan besar hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat setelah dikontrol variabel lain yang bermakna menggunakan regresi logistik).</p>
<p><strong>HASIL</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Analisis univariat</strong>. Dalam penelitian ini variabel yang diteliti meliputi lingkungan rumah (terdiri atas pencahayaan alami dalam rumah, luas ventilasi rumah, kepadatan hunian kamar tidur, suhu dalam rumah, kelembaban rumah, jenis dinding, jenis lantai rumah), sumber penularan, status imunisasi dan pengetahuan ibu. Distribusi kasus dan kontrol difteri berdasarkan variabel terlihat pada Tabel 1.</p>
<p>Analisis secara univariat adalah sebagai berikut : sebagian besar kasus (69,4%) menempati rumah yang tidak ada sinar matahari masuk ke rumah. 58,3% kasus menempati rumah dengan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat. Sebagian besar kasus (93,1%) menempati rumah dengan kepadatan hunian ruang tidur yang tidak memenuhi syarat. 81,9% kasus menempati rumah yang bersuhu nyaman. Sebagian besar kasus (93,1%) menempati rumah yang mempunyai kelembaban yang tidak memenuhi syarat. 69,4% kasus menmpati rumah yang berdinding bilik/papan. Sebagian besar kasus (65,3%) menempati rumah yang berlantai tanah/ papan. Sebagian besar responden (52,8%) menyatakan ada sumber penularan, yaitu  keberadaan penderita atau karier difteri di lingkungan keluarga, lingkungan rumah atau lingkungan sekolah. 81,9% kasus status imunisasinya tidak lengkap. Sebagian besar responden/ibu (72,2%) dikategorikan memiliki pengetahuan rendah terhadap imunisasi dan penyakit difteri.</p>
<p><a href="http://diskeskabtasik.files.wordpress.com/2010/05/1-univariat.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-250" src="http://diskeskabtasik.files.wordpress.com/2010/05/1-univariat.jpg?w=486&#038;h=615" alt="" width="486" height="615" /></a></p>
<p><strong>Analisis bivariat</strong>. Dengan menggunakan uji <em>chi-square</em> (X²) (pada α = 5%) maka diperoleh hubungan variabel-variabel penelitian dengan kejadian difteri (Tabel 2). Dari tabel tersebut diketahui variabel yang mempunyai hubungan bermakna (<em>p </em>&lt; 0,05) dengan kejadian difteri adalah sinar matahari masuk ke rumah, kepadatan hunian ruang tidur, jenis dinding rumah, jenis lantai rumah, sumber penularan, status imunisasi dan pengetahuan ibu.</p>
<p><a href="http://diskeskabtasik.files.wordpress.com/2010/05/2-bivariat.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-251" src="http://diskeskabtasik.files.wordpress.com/2010/05/2-bivariat.jpg?w=510&#038;h=499" alt="" width="510" height="499" /></a></p>
<p><strong>Analisis Multivariat</strong>. Dengan menggunakan uji regresi logistik dilakukan analisis hubungan variabel bebas dengan kejadian difteri secara bersama-sama (Tabel 3). Dari analisis multivariat ini diperoleh hasil 6 variabel berhubungan bermakna dengan kejadian difteri, yaitu kepadatan hunian ruang tidur, kelembaban dalam rumah, jenis lantai rumah, sumber penularan, status imunisasi dan pengetahuan ibu.</p>
<p><a href="http://diskeskabtasik.files.wordpress.com/2010/05/3-multivariat.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-252" src="http://diskeskabtasik.files.wordpress.com/2010/05/3-multivariat.jpg?w=510&#038;h=267" alt="" width="510" height="267" /></a></p>
<p><strong>PEMBAHASAN</strong></p>
<p><strong>Pencahayaan alami dalam rumah</strong>. Pengertian pencahayaan alami dalam rumah  menurut penelitian ini adalah penerangan dalam rumah pada pagi, siang atau sore hari yang berasal dari sinar matahari langsung yang masuk melalui jendela, ventilasi atau genteng kaca minimal selama 10 menit per hari. Variabel ini tidak berhubungan bermakna dengan kejadian difteri. Berdasarkan data kuesioner 62% responden menyatakan ada sinar matahari pagi masuk ke rumah lebih dari 10 menit, dari jumlah tersebut 54% menyatakan sinar matahari masuk melalui jendela, 23% melalui ventilasi dan hanya 1% melalui genteng kaca. Dengan masuknya sinar matahari hanya melalui jendela dan ventilasi, maka terbatas ruangan yang tersinari matahari (ultra violet), sehingga ada kemungkinan tidak cukup untuk mengurangi kelembaban ruangan dan efek sinar ultra violet membunuh kuman penyakit menjadi terbatas.</p>
<p><strong>Luas ventilasi rumah</strong>. Variabel ini tidak berhubungan bermakna dengan kejadian difteri. Hal tersebut dikarenakan prosentase ventilasi yang tidak memenuhi syarat baik pada kasus (56%) dan kontrol (44%) tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.</p>
<p><strong>Kepadatan hunian ruang tidur</strong>. Hasil penelitian ini sebagian besar kasus menempati rumah dengan kepadatan hunian ruang tidur yang tidak memenuhi syarat atau kurang dari 4 m²/org sebesar 69,1% lebih banyak dibandingkan kontrol yang hanya 30,9%. Dari uji multivariat diperoleh hasil bahwa tinggal di rumah dengan kepadatan hunian ruang tidur yang tidak memenuhi syarat (&lt; 4 m²/org) memberikan peluang terjadinya difteri 15,778 kali dibandingkan dengan tinggal di rumah yang kepadatan hunian ruang tidurnya memenuhi syarat (≥ 4 m²/org). Potensi terjadinya penularan difteri saat tidur sangat memungkinkan karena berdasarkan kuesioner, responden menyatakan bahwa 30% anggota keluarga ada yang menderita difteri atau karier.</p>
<p><strong>Suhu dalam rumah</strong>. Variabel ini tidak berhubungan bermakna dengan kejadian difteri. Hal tersebut dikarenakan prosentase antara suhu tidak nyaman pada kasus (56,0%) dan kontrol (44,0%) menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan.</p>
<p><strong>Kelembaban dalam rumah</strong>. Hasil penelitian ini sebagian besar kasus menempati rumah dengan kelembaban dalam rumah yang tidak memenuhi syarat (&gt; 70%RH) sebesar 52,8% demikian pula dengan kontrol sebesar 47,2%. Dari uji multivariat diperoleh hasil bahwa tinggal di rumah dengan kelembaban yang tidak memenuhi syarat memberikan peluang terjadinya difteri 18,672 kali dibandingkan tinggal di rumah dengan kelembaban yang memenuhi syarat.</p>
<p><strong>Jenis dinding rumah</strong>. Variabel ini tidak berhubungan bermakna dengan kejadian difteri.</p>
<p><strong>Jenis lantai rumah</strong>. Dari hasil pengumpulan data atas kategori jenis lantai tanah/papan, semua responden yang dalam kategori ini memiliki jenis lantai rumah berupa papan atau panggung.  Hasil penelitian ini sebagian besar kasus menempati rumah dengan lantai berupa papan atau panggung sebesar 88,7%, lebih besar dibandingkan dengan kontrol yang hanya 11,3%. Dari uji multivariat diperoleh hasil bahwa tinggal di rumah dengan lantai rumah berupa papan atau panggung memberikan peluang terjadinya difteri 15,790 kali dibandingkan dengan tinggal di rumah dengan lantai berupa plesteran atau keramik.</p>
<p>Sebagian besar kasus difteri pada KLB difteri di Kabupaten Tasikmalaya  tahun 2005-2006 dan di Kabupaten Garut pada bulan Januari 2007, bertempat tinggal di daerah dataran tinggi (perkebunan teh) dengan kondisi lahan yang berbukit-bukit, tidak rata dan labil. Pada umumnya masyarakat di daerah ini rumahnya berupa rumah panggung dengan lantai papan, ukuran rumah yang tidak besar dan berkelompok. Hal ini menjadikan tingginya kepadatan hunian kamar tidur dan mudahnya interaksi dengan tetangga karena jarak antar rumah yang berdekatan. Dengan demikian semakin membuka peluang dan besarnya risiko penularan penyakit infeksi, seperti difteri. Berbeda dengan kontrol yang berasal dari wilayah yang sebagian besar rumahnya adalah rumah permanen dengan lantai berupa plesteran atau keramik. Jenis lantai rumah dari papan atau panggung dapat menyebabkan kenaikan kelembaban rumah karena papan bukan bahan kedap air dan pengaruh kelembaban tanah, kelembaban rumah yang tinggi dapat mempengaruhi penurunan daya tahan tubuh seseorang yang selanjutnya akan meningkatkan kerentanan tubuh terhadap penyakit terutama penyakit infeksi.</p>
<p><strong>Sumber penularan</strong>. Pengertian sumber penularan dalam penelitian ini adalah terdapatnya seseorang sebagai karier atau penderita difteri yang  tinggal serumah atau tinggal di lingkungan rumah atau teman sepermainan atau teman sekolah. Hasil penelitian ini sebagian besar kasus menyatakan bahwa di lingkungan rumah atau di sekolah anak responden terdapat penderita difteri dan pernah kontak/berhubungan langsung sebesar 86,4%, berbeda sekali dengan kontrol yang menyatakan hal yang sama hanya sebesar 13,6%. Dari uji multivariat diperoleh hasil bahwa keberadaan sumber punularan difteri memberikan peluang terjadinya difteri 20,821 kali dibandingkan dengan tidak adanya sumber penularan.</p>
<p>Dari data kuesioner pada kasus berkaitan dengan keberadaan sumber penularan  tanpa mengetahui proses penularan orang per orang, maka diperoleh informasi dari 37 responden (ibu) menyatakan bahwa 19% sesama anggota keluarga ada penderita difteri,  19% tetangga atau saudara jauh ada penderita difteri, 32% teman bermain ada penderita difteri dan 30% teman sekolah ada penderita difteri.</p>
<p>Berdasarkan data kuesioner tersebut, maka kemungkinan paling besar penularan terjadi di luar lingkungan rumah, yaitu dari teman bermain dan atau teman sekolah. Dengan demikian variabel lingkungan rumah yang berhubungan bermakna, yaitu kepadatan hunian kamar tidur, kelembaban rumah dan jenis lantai rumah bukan sebagai faktor risiko utama terjadinya difteri.</p>
<p><strong>Status imunisasi</strong>. Hasil penelitian ini sebagian besar status imunisasi  DPT  dan  DT  kasus  tidak lengkap (&lt; 3 kali), yaitu sebesar 86,8%, berbeda sekali dengan status imunisasi kontrol yang menyatakan hal yang sama hanya sebesar 13,2%. Dari uji multivariat diperoleh hasil bahwa status imunisasi DPT dan DT yang tidak lengkap memberikan peluang terjadinya difteri 46,403 dibandingkan dengan status imunisasi DPT dan DT yang lengkap.</p>
<p>Status imunisasi pada kasus tersebut di atas juga ditegaskan lagi dengan data pencapaian imunisasi DPT 3 di lokasi KLB difteri yang berada di bawah target 80%, yaitu pada tahun 2004 mencapai rata-rata 76% dan pada tahun 2005 terjadi penurunan pencapaian imunisasi yang rata-rata hanya sebesar 61%.</p>
<p><strong>Pengetahuan ibu</strong>. Pengertian pengetahuan ibu dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu tentang manfaat dan jenis imunisasi, pengetahuan ibu tentang tanda atau gejala difteri, cara penularan difteri dan imunisasi pencegah difteri. Hasil penelitian ini sebagian besar responden ibu (dari kasus) memiliki pengetahuan tentang imunisasi dan penyakit difteri dikategorikan sebagai pengetahuan rendah sebesar 69,3%, sedangkan terhadap hal yang sama pada responden ibu (dari kontrol)  sebesar 30,7%. Dari uji multivariat diperoleh hasil bahwa pengetahuan ibu yang rendah tentang imunisasi dan penyakit difteri memberikan peluang terjadinya difteri sebesar 9,826 kali dibandingkan dengan pengetahuan ibu yang tinggi.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong>Lingkungan Rumah :</strong></p>
<ol>
<li>Pencahayaan alami dalam rumah berupa keberadaan sinar matahari masuk dalam rumah tidak berhubungan dengan kejadian difteri.</li>
<li>Luas ventilasi rumah tidak berhubungan dengan kejadian difteri.</li>
<li>Tinggal di rumah dengan kepadatan hunian ruang tidur yang tidak memenuhi syarat (&lt; 4 m²/org) berisiko tertular difteri 15,778 kali dibandingkan dengan tinggal di rumah yang kepadatan hunian ruang tidurnya memenuhi syarat (≥ 4 m²/org).</li>
<li>Suhu dalam rumah tidak berhubungan dengan kejadian difteri.</li>
<li>Tinggal di rumah dengan kelembaban yang tidak memenuhi syarat (&lt; 40%RH atau &gt; 70%RH) berisiko terjadinya difteri 18,672 kali dibandingkan tinggal di rumah dengan kelembaban yang memenuhi syarat (40% &#8211; 70%).</li>
<li>Jenis dinding rumah tidak berhubungan dengan kejadian difteri.</li>
<li>Rumah dengan jenis lantai berupa papan atau panggung meningkatkan risiko terjadinya difteri sebesar 22,029 kali dibandingkan rumah dengan jenis lantai berupa plesteran atau keramik.</li>
</ol>
<p><strong>Status Imunisasi</strong>. Seorang anak dengan status imunisasi DPT dan DT yang tidak lengkap mempunyai risiko menderita difteri 46,403 kali dibandingkan seorang anak dengan status imunisasi DPT dan DT lengkap.</p>
<p><strong>Sumber Penularan</strong>. Keberadaan sumber penularan dalam hal ini adalah seorang penderita difteri atau seseorang yang telah terkena bakteri difteri tanpa menunjukkan gejala sakit difteri memberikan risiko penularan difteri 20,821 kali dibandingkan bila tidak ada sumber penularan.</p>
<p><strong>Pengetahuan Ibu</strong>.<strong> </strong>Ibu yang mempunyai pengetahuan rendah tentang imunisasi dan difteri memberikan peluang terjadinya difteri pada anak-anak mereka sebanyak 9,826 kali dibandingkan dengan ibu yang mempunyai pengetahuan tinggi tentang imunisasi dan difteri.</p>
<p><strong>Variabel Paling Dominan</strong>.<strong> </strong>Status imunisasi DPT dan DT anak adalah faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi terjadinya difteri.</p>
<p><strong>UCAPAN TERIMA KASIH</strong></p>
<p>Ucapan terimakasih sebesar-besarnya patut penulis sampaikan kepada Bapak Dr. dr. Rachmadhi Purwana, SKM. dan Bapak Dr. dr. I Made Djaja, SKM, MSc. yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya dan Dinas Kesehatan Kabupaten Garut yang telah mengijinkan pelaksanaan penelitian ini termasuk juga kepada rekan-rekan di Bidang Pemberantasan Penyakit Menular baik di Kabupaten Tasikmalaya maupun di Kabupaten Garut yang telah membantu dalam pengumpulan data lapangan. Ucapan terima kasih kepada <em>Second Provincial Health Project </em>Propinsi Jawa Barat melalui <em>District Funding Allocation </em>Kabupaten Tasikmalaya yang telah menyediakan dukungan dana penelitian. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih pula kepada Ibu Hj. drg. Ririn Arminsih Wulandari, M.Kes. dan saudara Hendri Hendriyan, SKM, M.Epid. yang telah banyak memberikan sumbang saran atas hasil penelitian ini dan kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<ol>
<li>Atkinson, Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases, United State Department of Health and Human Service, Centres for Disease Control and Prevention, 2000.</li>
<li>Azrul Azwar, Epidemiologi dan Kontrol Penyakit Lingkungan yang Ditularkan Melalui Udara, Jurnal Majalah Kesehatan Masyarakat, 1985.</li>
<li>Azrul Azwar, Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan, Mutiara Sumber Widya, Jakarta, 1990.</li>
<li>Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat, Kualitas Lingkungan Hidup Penentu Kualitas Kesehatan, diakses 3 Maret 2007, <a href="http://www.bplhdjabar.go.id/">http://www.bplhdjabar.go.id</a>.</li>
<li>Bapeda Kabupaten Garut, Sekilas Kabupaten Garut, diakses 1 Juli 2007, <a href="http://www.garut.go.id/">http://www.garut.go.id</a></li>
<li>Bapeda Kabupaten Tasikmalaya, Tasikmalaya Dalam Angka Tahun 2005, Tasikmalaya, 2006.</li>
<li>Benenson, Control of Communicable Disease Manual, 16th Edition Washington, DC, 2000.</li>
<li>Biofarma, Vaksin DT, diakses 30 Maret 2007, <a href="http://www.biofarma.co.id/">http://www.biofarma.co.id</a></li>
<li>Bisma Murti, Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1997.</li>
<li>Centres for Disease Control and Prevention, Diphtheria, United State Department of Health and Human Service, diakses 3 Maret 2007, <a href="http://www.cdc.gov/">http://www.cdc.gov</a>.</li>
<li>Departemen Kesehatan R.I., Profil Kesehatan Indonesia 2003, Jakarta, 2005.</li>
<li>Departemen Kesehatan R.I., Prosedur Kerja Surveilans Faktor Risiko Penyakit Menular dalam Intensifikasi Pemberantasan Penyakit Menular Terpadu Berbasis Wilayah, Jakarta, 2003.</li>
<li>Departemen Kesehatan R.I., Keputusan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 829/MENKES/SK/VII/1999, Jakarta, 2000.</li>
<li>Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Profil Kesehatan Kabupaten Garut Tahun 2004, Tasikmalaya, 2005.</li>
<li>Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, Profil Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2005, Tasikmalaya, 2006; 2005; 2004; 2003; 2002.</li>
<li>Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, Profil Kesehatan Propinsi Jawa Barat Tahun 2004, Bandung, 2005; 2004,</li>
<li>Dinata, Aspek Teknis Dalam Penyehatan Rumah, diakses 12 Juli 2007, <a href="http://www.miqralingkungan.blogspot.com/">http://www.miqralingkungan.blogspot.com</a>.</li>
<li>Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia, Diphtheriae, diakses 3 Maret 2007, <a href="http://www.fkuii.org/">http://www.fkuii.org</a>.</li>
<li>Hartono, Hal Ikhwal Imunisasi dan Aplikasinya, Bio Farma Bandung, Bandung, 1987.</li>
<li>Homeier, Infections Diphtheria, Nemours Foundation. Diakses 3 Maret 2007, <a href="http://www.kidshealth.org/parent/infections/bacterial_viral/diphtheria.html">http://www.kidshealth.org/parent/infections/bacterial_viral/diphtheria.html</a>.</li>
<li>Muhammad, K. Peranan Keluarga dalam Kesehatan, Majalah Prisma No. 3 tahun XVII, Jakarta, 1998.</li>
<li>Ohio State  University Medical  Center, Diptheria, diakses 3 Maret 2007, <a href="http://www.medicalcenter.osu.edu/">http://www.medicalcenter.osu.edu</a></li>
<li>Oki Zulkifli, Surveilans Penyakit Dipteri, Majalah Sehat_i vol.1 2005, Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, Tasikmalaya, 2005.</li>
<li>Lemeshow, dkk. Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan, diterjemahkan oleh drg. Dibyo Pramono, SU, MDSc., Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1997.</li>
<li>Markum, Imunisasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987.</li>
<li>Medicastore, Imunisasi, diakses 30 Maret 2007, <a href="http://www.madicastore.com/">http://www.madicastore.com</a>.</li>
<li>Waldo E. Nelson, (editor), Textbook of Pediatrics, 8th edition, W.B. Saunders Company, Philadelphia, London, 1964..</li>
<li>Siahaan, A, H. Pengaruh Genangan Pasang pada Lingkungan Pembinaan Rumah terhadap Kesehatan, Tesis S2 Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Jakarta, 1991.</li>
<li>Soekidjo Notoatmodjo, Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Penerbit PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2003.</li>
<li>Soekidjo Notoatmodjo, Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Penerbit Andi Offset, Yogyakarta, 2000.</li>
<li>Soesanto, Hubungan Kondisi Perumahan dengan Penularan Penyakit ISPA dan TB Paru, Bahan Lokakarya Sehari Penyehatan Perumahan, Jakarta, 2000.</li>
<li>Suyitno, R, H. Pengamatan Vaksinasi dalam Hubungannya dengan Berbagai Tingkat Gizi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Jakarta, 1990.</li>
<li>Sutanto PH, Modul Analisis Data, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta, 2001.</li>
<li>Vensya Sitohang, Hubungan Kepadatan Serumah dengan Kejadian Difteri pada Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di Kabupaten Cianjur Jawa Barat Tahun 2000 – 2001, Tesis S2 Program Studi Epidemiologi Kekhususan Epidemiologi Lapngan Universitas Indonesia, Jakarta, 2002.</li>
</ol>
<br />Filed under: <a href='http://diskeskabtasik.wordpress.com/category/riset-penelitian-kesehatan/'>Riset &amp; Penelitian Kesehatan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diskeskabtasik.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diskeskabtasik.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diskeskabtasik.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diskeskabtasik.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diskeskabtasik.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diskeskabtasik.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diskeskabtasik.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diskeskabtasik.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diskeskabtasik.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diskeskabtasik.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diskeskabtasik.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diskeskabtasik.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diskeskabtasik.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diskeskabtasik.wordpress.com/249/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=249&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/05/10/hubungan-lingkungan-rumah-dengan-kejadian-difteri-pada-kejadian-luar-biasa-klb-difteri-di-kabupaten-tasikmalaya-tahun-2005-%e2%80%93-2006-dan-di-kabupaten-garut-bulan-januari-tahun-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c2d6e522e6b403e93c97a7448e73abd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SUBAG_PROGRAM</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diskeskabtasik.files.wordpress.com/2010/05/1-univariat.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://diskeskabtasik.files.wordpress.com/2010/05/2-bivariat.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://diskeskabtasik.files.wordpress.com/2010/05/3-multivariat.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>&#8217;4 Terlalu&#8217; dan &#8217;3 Terlambat&#8217; Sumbang Angka Kematian Ibu</title>
		<link>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/05/10/4-terlalu-dan-3-terlambat-sumbang-angka-kematian-ibu/</link>
		<comments>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/05/10/4-terlalu-dan-3-terlambat-sumbang-angka-kematian-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 14:15:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DINAS KESEHATAN KABUPATEN TASIKMALAYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diskeskabtasik.wordpress.com/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi. Tingginya AKI antara lain dipicu oleh 4 kondisi kehamilan yang tidak ideal atau yang disebut &#8220;4 terlalu&#8221; dan situasi yang diindikasikan dengan &#8217;3 terlambat&#8217;. Demikian disampaikan oleh ketua Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Dr. Dewi Motik Pramono, M.Si dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=246&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi. Tingginya AKI antara  lain dipicu oleh 4 kondisi kehamilan yang tidak ideal atau yang disebut  &#8220;4 terlalu&#8221; dan situasi yang diindikasikan dengan &#8217;3 terlambat&#8217;.</p>
<p>Demikian  disampaikan oleh ketua Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Dr. Dewi  Motik Pramono, M.Si dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan  Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar, S.Ip dalam dialog nasional  &#8220;Tanggung Jawab Bersama Mengurangi Kematian Ibu dan Balita&#8221; di Jakarta,  Senin (10/5/2010).</p>
<p>Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia  (SDKI) 2007, mencatat AKI mencapai 228/100.000 kelahiran hidup.  Diperkirakan, tiap jam terjadi 2 kematian ibu.</p>
<p>Dr. Dewi Motik  menyampaikan tingginya AKI antara lain dipicu oleh 4 kondisi kehamilan  yang tidak ideal yang disebut &#8217;4 terlalu&#8217; yang berdasarkan data SDKI  2007 adalah:</p>
<ol>
<li>Kehamilan terlalu muda (kurang dari 18 tahun) menyebabkan 3 persen</li>
<li>kematian ibu di Indonesia.</li>
<li>Usia yang terlalu tua untuk hamil (di atas 34 tahun) yakni 4,7  persen</li>
<li>Jarak kehamilan terlalu dekat (kurang dari 2 tahun) 5,5 persen</li>
<li>Kehamilan terlalu banyak (lebih dari 3 anak) 8,1 persen.</li>
</ol>
<p>&#8220;Survei menunjukkan Jawa Barat remaja putri yang menikah di bawah usia  16 tahun mencapai 16 persen. Proporsi kehamilan mencapai 4,1 persen&#8221;,  ungkap Dr Dewi Motik.</p>
<p>Untuk mencegah 4 kondisi tidak ideal itu  dibutuhkan pengaturan kehamilan melalui alat kontrasepsi. Tujuannya  dibagi menjadi 3 yakni tujuan yakni untuk menunda, menjarangkan dan  membatasi kehamilan.</p>
<p>Sementara Menteri Negara Pemberdayaan  Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar, S.Ip.  mengungkap bahwa tingginya AKI dipicu oleh sebab langsung dan tidak  langsung. Sebab langsung antara lain perdarahan, aborsi, eklamsia dan  partus lama. Keempatnya menyumbang 70 persen AKI.</p>
<p>Sementara sebab  tak langsung antara lain tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan,  faktor budaya dan akses trasportasi. Situasi ini diindikasikan dengan &#8217;3  Terlambat&#8217; yaitu:</p>
<ol>
<li>Terlambat mengambil keputusan, sehingga terlambat untuk mendapat  penanganan.</li>
<li>Terlambat sampai ke tempat rujukan karena kendala transportasi.</li>
<li>Terlambat mendapat penanganan karena terbatasnya sarana dan sumber  daya manusia.</li>
</ol>
<p>Senada dengan itu, Menteri Kesehatan Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih,  MPH, DR. PH membenarkan bahwa sumber daya manusia terutama bidan masih  kurang. Oleh karenanya, tenaga medis yang lain perlu diberdayakan.</p>
<p>&#8220;Secara  jumlah, sebenarnya cukup tetapi distribusinya belum merata. Untuk itu  dokter umum di daerah tertentu perlu dibekali keterampilan &#8216;plus&#8217; supaya  bisa membantu persalinan,&#8221; ungkap Menkes.</p>
<p>(Sumber : http://health.detik.com)</p>
<br />Filed under: <a href='http://diskeskabtasik.wordpress.com/category/berita/'>Berita</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diskeskabtasik.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diskeskabtasik.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diskeskabtasik.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diskeskabtasik.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diskeskabtasik.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diskeskabtasik.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diskeskabtasik.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diskeskabtasik.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diskeskabtasik.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diskeskabtasik.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diskeskabtasik.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diskeskabtasik.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diskeskabtasik.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diskeskabtasik.wordpress.com/246/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=246&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/05/10/4-terlalu-dan-3-terlambat-sumbang-angka-kematian-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c2d6e522e6b403e93c97a7448e73abd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SUBAG_PROGRAM</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perbaiki Kualitas Tidur Jika Ingin Panjang Umur</title>
		<link>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/05/03/perbaiki-kualitas-tidur-jika-ingin-panjang-umur/</link>
		<comments>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/05/03/perbaiki-kualitas-tidur-jika-ingin-panjang-umur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 05:33:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DINAS KESEHATAN KABUPATEN TASIKMALAYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Kesehatan Populer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diskeskabtasik.wordpress.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Bila menginginkan umur panjang, mulailah memperbaiki kualitas tidur. Sebuah penelitian membuktikan bahwa sebagian besar orang yang mencapai usia 100 tahun memiliki kualitas tidur yang baik. &#8220;Usia dan kondisi kesehatan merupakan 2 hal yang paling dipengaruhi oleh durasi dan kualitas tidur,&#8221; kata Danan Gu, Ph.D. dari Portland State University yang memimpin penelitian tersebut, dikutip dari ScienceDaily, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=243&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bila menginginkan umur panjang, mulailah memperbaiki kualitas tidur.  Sebuah penelitian membuktikan bahwa sebagian besar orang yang mencapai  usia 100 tahun memiliki kualitas tidur yang baik.</p>
<p>&#8220;Usia dan  kondisi kesehatan merupakan 2 hal yang paling dipengaruhi oleh durasi  dan kualitas tidur,&#8221; kata Danan Gu, Ph.D. dari Portland State University  yang memimpin penelitian tersebut, dikutip dari <em>ScienceDaily</em>,  Senin (3/5/2010).</p>
<p>Sejak tahun 2005, Gu dan rekan-rekannya  melakukan pengamatan terhadap 15.638 warga China berusia 65 tahun ke  atas, yang tersebar di 22 provinsi. Sebanyak 2.794 di antarnya berusia  100 tahun atau lebih, sedangkan yang berusia 90-97 tahun sebanyak 3.927  orang.</p>
<p>Kualitas tidur pada 65 persen partisipan termasuk kategori  bagus dan sangat bagus, dengan durasi rata-rata 7,5 jam sehari termasuk  tidur siang. Yang mengejutkan, partisipan dengan usia 100 tahun ke atas  memiliki kualitas tidur 70 persen lebih bagus dibandingkan yang berusia  65-79 tahun.</p>
<p>Masalah kesehatan juga erat kaitannya dengan  kualitas tidur. Pengalaman tidur nyenyak pada partisipan yang punya  masalah kesehatan teramati 46 persen lebih rendah. Ini terjadi pada  partisipan yang mengalami kegelisahan, penyakit kronis, maupun rutinitas  hidup yang tidak menyenangkan.</p>
<p>Fakta lain yang terungkap adalah,  adanya hubungan antara jenis kelamin dengan kualitas tidur. Pengalaman  tidur nyenyak pada partisipan pria 23 persen lebih banyak dibandingkan  pada partisipan wanita.</p>
<p>Survei ini sebenarnya memang tidak  didesain untuk melihat hubungan sebab-akibat. Namun dari data yang ada,  para peneliti meyakini terdapat kaitan yang erat antara kualitas tidur  dengan kesehatan dan umur panjang.</p>
<p>Sengaja dipilih China sebagai  lokasi penelitian, karena populasi lansia di wilayah tersebut tercatat  paling tinggi di dunia. Berdasarkan data Bank Dunia (World Bank), hampir  40,5 juta dari total 1,3 miliar penduduk China memiliki usia 75 tahun  ke atas.</p>
<p>Hasil pengamatan sejak tahun 2005 tersebut telah  dipublikasikan pada jurnal Sleep edisi 1 Mei 2010. Pada akhir tahun ini,  tim yang sama juga akan mempublikasikan data tahun 2008-2009 sebagai  pembandingnya.</p>
<p>Sumber : http://health.detik.com/read/2010/05/03/074048/1349773/766/perbaiki-kualitas-tidur-jika-ingin-panjang-umur?l991101755</p>
<br />Filed under: <a href='http://diskeskabtasik.wordpress.com/category/artikel-kesehatan-populer/'>Artikel Kesehatan Populer</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diskeskabtasik.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diskeskabtasik.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diskeskabtasik.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diskeskabtasik.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diskeskabtasik.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diskeskabtasik.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diskeskabtasik.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diskeskabtasik.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diskeskabtasik.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diskeskabtasik.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diskeskabtasik.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diskeskabtasik.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diskeskabtasik.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diskeskabtasik.wordpress.com/243/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=243&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/05/03/perbaiki-kualitas-tidur-jika-ingin-panjang-umur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c2d6e522e6b403e93c97a7448e73abd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SUBAG_PROGRAM</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKSES MASYARAKAT TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN SEMAKIN MEMBAIK</title>
		<link>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/05/03/akses-masyarakat-terhadap-pelayanan-kesehatan-semakin-membaik/</link>
		<comments>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/05/03/akses-masyarakat-terhadap-pelayanan-kesehatan-semakin-membaik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 04:50:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DINAS KESEHATAN KABUPATEN TASIKMALAYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diskeskabtasik.wordpress.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi termasuk keluarga berencana semakin membaik. Hal ini ditandai dengan tersedianya fasilitas pelayanan kesehatan primer meliputi 8.721 puskesmas, 22.337 Puskesmas pembantu, yang didukung upaya kesehatan bersumber masyarakat yang meliputi 51.996 Poskesdes dan 266.827 Posyandu. Di setiap kabupaten/kota minimal 4 Puskesmas rawat inap yang menyediakan pelayanan kegawatdaruratan kesehatan ibu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=241&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akses masyarakat terhadap  pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi termasuk keluarga berencana  semakin membaik. Hal ini ditandai dengan tersedianya fasilitas pelayanan  kesehatan primer meliputi 8.721 puskesmas, 22.337 Puskesmas pembantu,  yang didukung upaya kesehatan bersumber masyarakat yang meliputi 51.996  Poskesdes dan 266.827 Posyandu. Di setiap kabupaten/kota minimal 4  Puskesmas rawat inap yang  menyediakan pelayanan kegawatdaruratan  kesehatan ibu dan reproduksi, saat ini telah tersedia 69 persen dari  target 1.948 Puskesmas Rawat Inap. Fasilitas pelayanan kesehatan  sekunder dan tersier yang memberikan pelayanan ibu dan kesehatan  reproduksi termasuk pelayanan keluarga berencana rumah sakit meliputi  613 rumah sakit kabupaten/kota, provinsi dan pusat.</p>
<p>Dengan peningkatan akses pelayanan  kesehatan tersebut, cakupan pelayanan antenatal empat kali kunjungan  telah mencapai 84 persen (2009), cakupan persalinan ditolong tenaga  kesehatan 83 persen (2009), cakupan pelayanan postpartum 81 persen  (2008) dan cakupan pelayanan KB modern 57 persen (2007).</p>
<p>Demikian sambutan Menteri  Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR.PH ketika  meluncurkan program Keluarga Berencana Terkini (Advance Family  Planning-AFP), bersama Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana  Nasional (BKKBN), DR. Dr Sugiri Syarief, MPA di Hotel JW. Marriot,  Jakarta, 6 April 2010.</p>
<p>Dalam peluncuran AFP,  Menkes mengatakan bahwa Millenium Development Goals telah menjadi  komitmen Pemerintah Republik Indonesia yang secara konstitusional telah  dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)  tahun 2010-2014 yaitu: menurunnya angka kematian bayi dari 34 per 1000  kelahiran hidup (SDKI 2007) menjadi 24 per 1000 kelahiran hidup,  sedangkan target yang akan dicapai pada tahun 2015 adalah 23; Menurunnya  angka kematian ibu dari 228 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2007)  menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan target yang akan  dicapai pada tahun 2015 adalah 102; Meningkatnya Contraceptive  Prevalence Rate (CPR) modern dari 57 persen (SDKI 2007) menjadi 65  persen, sama dengan target MDGs 2015; termasuk menurunnya kebutuhan yang  belum terpenuhi (unmet need) ber-KB dari 9,1 persen (SDKI 2007)   menjadi 5 persen, sama dengan target MDGs 2015.</p>
<p>Untuk mencapai target  RPJMN 2014 dan MDGs 2015 dalam kesehatan ibu dan reproduksi termasuk  keluarga berencana, masih ada tantangan yang perlu mendapat perhatian  khusus yaitu adanya disparitas antar wilayah, antara perkotaan dan  perdesaan, masyarakat kaya dan miskin, tingkat pendidikan tinggi dan  rendah. Selain hal tersebut masih ada isu terkait penyediaan SDM  kesehatan yang mempunyai kompetensi untuk memberikan pelayanan kesehatan  ibu dan reproduksi termasuk pelayanan keluarga berencana, serta  pembiayaan dan penganggaran terutama dikaitkan dengan prioritas  kebijakan  pemerintah daerah  pada era desentralisasi.</p>
<p>Untuk menghadapi  tantangan tersebut, Kementerian Kesehatan telah melakukan  langkah-langkah yang dimulai dari reformasi upaya kesehatan,  revitalisasi Puskesmas, meningkatkan pembiayaan dan anggaran kesehatan  yang difokuskan untuk mencapai universal coverage melalui perluasan  jangkauan jamkesmas dan penyediaan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).</p>
<p>Peluncuran AFP ini  bertujuan untuk menandai perubahan komitmen untuk meningkatkan upaya  bersama untuk meningkatkan keluarga berencana dan mencapai akses  universal atas kesehatan reproduksi (MDG ke-5 yaitu meningkatkan  kesehatan ibu).</p>
<p>AFP adalah suatu  inisiatif yang memiliki ciri berbasis data/bukti nyata (evidence-based)  yang bertujuan untuk merevitalisasi program keluarga berencana melalui  peningkatan anggaran yang efektif dan komitmen kebijakan di tingkat  lokal, nasional dan global. Oleh sebab itu Menkes berharap agar dalam  menentukan daerah intervensi AFP, hendaknya menggunakan data yang telah  tersedia antara lain SDKI, Riskesdas dan data program terkait di  Kementerian Kesehatan, BKKBN dan Kementerian Dalam Negeri.</p>
<p>Turut hadir dalam acara  ini di antaranya Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Dra. Harni Koesno,  MKM; Deputi SDM dan Kebudayaan Bappenas, Dra. Nina Sardjunani, MA; AFP  Project Director Duff Gilespie, USAID Deputy Mission Director, Scott  Dobberstein, dan lain-lain.</p>
<p>Berita ini disiarkan oleh  Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan.</p>
<br />Filed under: <a href='http://diskeskabtasik.wordpress.com/category/berita/'>Berita</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diskeskabtasik.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diskeskabtasik.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diskeskabtasik.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diskeskabtasik.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diskeskabtasik.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diskeskabtasik.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diskeskabtasik.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diskeskabtasik.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diskeskabtasik.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diskeskabtasik.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diskeskabtasik.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diskeskabtasik.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diskeskabtasik.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diskeskabtasik.wordpress.com/241/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=241&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/05/03/akses-masyarakat-terhadap-pelayanan-kesehatan-semakin-membaik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c2d6e522e6b403e93c97a7448e73abd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SUBAG_PROGRAM</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BERSAMA KITA BERANTAS MALARIA</title>
		<link>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/05/03/bersama-kita-berantas-malaria/</link>
		<comments>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/05/03/bersama-kita-berantas-malaria/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 04:46:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DINAS KESEHATAN KABUPATEN TASIKMALAYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diskeskabtasik.wordpress.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia. Penyakit ini mempengaruhi tingginya angka kematian ibu hamil, bayi dan balita. Setiap tahun lebih dari 500 juta penduduk dunia terinfeksi malaria dan lebih dari 1.000.000 orang meninggal dunia. Kasus terbanyak terdapat di Afrika dan beberapa negara Asia termasuk Indonesia, Amerika Latin, Timur Tengah dan beberapa bagian negara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=237&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malaria masih menjadi masalah kesehatan  masyarakat di dunia. Penyakit ini mempengaruhi tingginya angka kematian  ibu hamil, bayi dan balita. Setiap tahun lebih dari 500 juta penduduk  dunia terinfeksi malaria dan lebih dari 1.000.000 orang meninggal dunia.  Kasus terbanyak terdapat di Afrika dan beberapa negara Asia termasuk  Indonesia, Amerika Latin, Timur Tengah dan beberapa bagian negara Eropa.</p>
<p>Sedangkan di Indonesia, sampai tahun  2009, sekitar 80% Kabupaten/Kota masih termasuk katagori endemis malaria  dan sekitar 45% penduduk bertempat tinggal di daerah yang berisiko  tertular malaria.Sementara jumlah kasus yang dilaporkan pada tahun 2009  sebanyak 1.143.024 orang. Jumlah ini mungkin lebih kecil dari keadaan  yang sebenarnya karena lokasi yang endemis malaria adalah desa-desa yang  terpencil dengan sarana transportasi yang sulit dan akses pelayanan  kesehatan yang rendah.</p>
<p>Untuk mengatasi malaria, pada pertemuan  WHA 60 tanggal 18-23 Mei 2007 telah disepakati komitmen global tentang  eliminasi malaria setiap negara dan merekomendasikan bagi negara-negara  yang endemis malaria memperingati Hari Malaria Sedunia setiap tanggal 25  April. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja dalam menuju  eliminasi malaria serta meningkatkan kepedulian dan peran aktif  masyarakat dalam penanggulangan dan pencegahan malaria.</p>
<p>Tahun ini merupakan tahun ketiga  peringatan Hari Malaria Sedunia dengan tema ”BERSAMA KITA BERANTAS  MALARIA”. Tujuannya untuk meningkatkan kemitraan dalam mencapai  eliminasi malaria di Indonesia. Selain itu juga untuk meningkatnya  kesadaran para mitra untuk berperan aktif dalam eliminasi malaria,  meningkatnya komitmen para penentu kebijakan di Pusat dan Daerah untuk  melakukan eliminasi malaria, serta meningkatnya kemitraan dalam kegiatan  eliminasi malaria.</p>
<p>Peringatan Hari Malaria Sedunia (HMS)  tahun 2010 diharapkan dapat lebih meningkatkan advokasi, edukasi dan  sosialisasi kepada semua stakeholder dan masyarakat sehingga eliminasi  malaria dapat segera dicapai. Mengingat malaria merupakan masalah yang  komplek terkait dengan aspek penyebab penyakit (parasit), lingkungan  (fisik dan biologis) dan nyamuk sebagai vektor penular maka eliminasi  malaria harus dilaksanakan secara bersama dengan para mitra terkait dan  menjadi bagian integral dari pembangunan nasional.</p>
<p>Peringatan HMS Tahun 2010 diisi dengan  berbagai kegiatan di Pusat maupun Daerah, diantaranya Workshop Nasional  tentang Penelitian Malaria di Indonesia tanggal 10 Mei 2010, Workshop  Pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Eliminasi Malaria tanggal 18 Mei  2010. Sedangkan pada puncak acara akan dilakukan peresmian Malaria  Center di Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara oleh Menteri  Kesehatan tanggal 24 April 2010.</p>
<p>Sebaran malaria dibedakan menjadi daerah  non endemis dan endemis. Daerah dikatakan non endemis bila di daerah  itu tidak terdapat penularan malaria atau angka kejadian malaria (Annual  Parasite Incident = API ) nol. Termasuk daerah non endemis adalah  provinsi DKI Jakarta, Bali, dan Kepri (Barelang Binkar).</p>
<p>Sedangkan daerah endemis malaria  dibedakan menjadi endemis tinggi, endemis sedang dan endemis rendah.</p>
<p>Dikatakan endemis tinggi bila API-nya  lebih besar dari 50 per 1.000 penduduk yaitu di Provinsi Maluku, Maluku  Utara, Papua, Papua Barat, Sumatera Utara (Kab. Nias dan Nias Selatan),  dan NTT.</p>
<p>Endemis Sedang bila API-nya berkisar  antara 1 sampai kurang dari 50 per 1.000 penduduk yaitu di provinsi Aceh  (Kab. Siemeulu), Bangka Belitung, Kepri (Kab. Lingga), Jambi (Kab.  Batang Hari, Merangin, dan Sorolangun), Kalimantan Tengah (Kab.  Sukamara, Kota waringin barat), Mura), Sulteng (Kab. Toli-toli, Banggai,  Banggai Kepulauan, Poso), Sultra (Kab. Muna), NTB (Sumbawa Barat,  Dompu, Kab.Bima, dan Sumbawa), Jawa Tengah (Wonosobo, Banjarnegara,  Banyumas, Pekalongan dan Sragen), Jawa Barat (Sukabumi, Garut, dan  Ciamis).</p>
<p>Endemis rendah bila API-nya 0 &#8211; 1 per  1.000, diantaranya sebagian Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.</p>
<p>Upaya pemerintah dalam program  pengendalian malaria yaitu Diagnosa Malaria harus terkonfirmasi  mikroskop atau Rapid Diagnostic Test; Pengobatan menggunakan Artemisinin  Combination Therapy; Pencegahan penularan malaria melalui: distribusi  kelambu (Long Lasting Insecticidal Net), Penyemprotan rumah, repellent,  dan lain-lain; Kerjasama Lintas Sektor dalam Forum Gebrak Malaria; dan  Memperkuat Desa Siaga dengan pembentukan Pos Malaria Desa (Posmaldes).</p>
<p>Seseorang yang terkena malaria dapat  mengalami anemia. Pada kasus malaria berat dapat menyebabkan koma,  kegagalan multi organ serta menyebabkan kematian.Namun malaria dapat  dicegah.</p>
<p>Cara mencegah malaria yaitu dengan  menghindari gigitan nyamuk malaria diantaranya dengan tidur di dalam  kelambu, mengolesi badan dengan obat anti gigitan nyamuk (Repelent);  membersihkan tempat-tempat hinggap/istirahat nyamuk dan memberantas  sarang nyamuk; membunuh nyamuk dewasa dengan menyemprot rumah-rumah  dengan racun serangga; membunuh jentik-jentik nyamuk dengan menebarkan  ikan pemakan jentik; membunuh jentik nyamuk dengan menyempot obat anti  larva (jentik) pada genangan air dan melestarikan hutan bakau di  rawa-rawa sepanjang pantai</p>
<p>Berita ini disiarkan oleh Pusat  Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.</p>
<br />Filed under: <a href='http://diskeskabtasik.wordpress.com/category/berita/'>Berita</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diskeskabtasik.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diskeskabtasik.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diskeskabtasik.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diskeskabtasik.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diskeskabtasik.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diskeskabtasik.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diskeskabtasik.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diskeskabtasik.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diskeskabtasik.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diskeskabtasik.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diskeskabtasik.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diskeskabtasik.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diskeskabtasik.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diskeskabtasik.wordpress.com/237/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=237&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/05/03/bersama-kita-berantas-malaria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c2d6e522e6b403e93c97a7448e73abd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SUBAG_PROGRAM</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KOTA SEHAT WARGA SEHAT</title>
		<link>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/04/05/kota-sehat-warga-sehat/</link>
		<comments>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/04/05/kota-sehat-warga-sehat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 06:51:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DINAS KESEHATAN KABUPATEN TASIKMALAYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/04/05/kota-sehat-warga-sehat/</guid>
		<description><![CDATA[Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), urbanisasi sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan global maupun kesehatan individu. Sejalan dengan hal itu, untuk memperingati Hari Kesehatan Sedunia (HKS ke-62) tanggal 7 April 2010, ditetapkan tema Urbanization and Health, dengan slogan 1000 Cities, 1000 Live. Sedangkan Indonesia berdasarkan Keputusan Menkes No. 350/Menkes/SK/III/2010 menetapkan tema Urbanisasi dan Kesehatan, sub tema [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=233&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut Organisasi Kesehatan  Dunia (WHO), urbanisasi sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan  global maupun kesehatan individu. Sejalan dengan hal itu, untuk  memperingati Hari Kesehatan Sedunia (HKS ke-62) tanggal 7 April 2010,  ditetapkan tema Urbanization and Health, dengan slogan 1000 Cities, 1000  Live.  Sedangkan Indonesia  berdasarkan Keputusan Menkes No.  350/Menkes/SK/III/2010 menetapkan tema Urbanisasi dan Kesehatan, sub  tema Kota Sehat, Warga Sehat dengan slogan 1000 Kota, 1000 Kehidupan.</p>
<p>Sub Tema ” Kota Sehat,  Warga Sehat ” dipilih karena kebijakan kota sehat telah berjalan di  Indonesia, tetapi masih ditemukan kendala yaitu penyediaan air minum dan  sanitasi lingkungan.  Untuk mengatasinya, diperlukan komitmen dari  semua pemangku kepentingan dan komponen masyarakat  mewujudkan kota  sehat yang sekaligus berdampak pada peningkatan kesehatan warganya.</p>
<p lang="sv-SE">Slogan 1000  Kota mempunyai makna suatu ajakan atau motivasi agar lebih dari 1000  kota berikut pimpinan/penentu kebijakan berpartisipasi dalam kegiatan  peringatan HKS ke-62. 1000 Kehidupan mempunyai makna adanya  penggerak/pahlawan yang melakukan aktivitas meningkatkan kesehatan di  lingkungan kehidupannya.</p>
<p lang="fi-FI">WHO  memperkirakan, lebih 3 juta penduduk di dunia hidup di perkotaan. Di  tahun 2007, laju pertambahan populasi penduduk perkotaan melampaui 50%  dan proporsi ini akan terus bertambah di tahun-tahun mendatang.  Diproyeksikan pada tahun 2030, enam dari sepuluh orang akan menjadi  penghuni daerah perkotaan dan akan meningkat menjadi tujuh dari sepuluh  orang di tahun 2050.</p>
<p>Di Indonesia, pada tahun  2009, lebih dari 43% penduduk tinggal di wilayah perkotaan, dan menurut  prediksi pada tahun 2025 akan meningkat menjadi 60%. Akibatnya  pemerintah kota akan menghadapi tantangan besar seperti penyediaan air  minum,  kepadatan lalu lintas, pencemaran udara, perumahan yang tidak  sehat, kriminalitas dan penggunaan minuman keras dan obat-obat  terlarang.</p>
<p lang="sv-SE">Berdasarkan  data Departemen Perhubungan dan BPS 2004, jumlah kendaraan  bermotor  antara tahun 2000 dan 2003 bertambah sekitar 12 persen setiap tahunnya.  Peningkatan ini diikuti dengan peningkatan pencemaran udara dari asap  kendaraan bermotor yang mengeluarkan zat-zat pencemar berbahaya seperti  karbon monoksida (CO), hidrokarbon (HC) dan oksida nitrogen (NOx).</p>
<p lang="sv-SE">Permasalahan  lainnya, lebih dari 100 juta rakyat Indonesia masih kekurangan akses  terhadap air minum yang aman. Survei Sosial-Ekonomi Nasional (SUSENAS)  2004 mencatat bahwa hanya 47% penduduk yang dapat mengakses air minum  dari sumber yang aman (termasuk 42% penduduk di perkotaan).</p>
<p lang="sv-SE">Pelaksanaan  kegiatan</p>
<p>Peringatan HKS ke-62 di  Indonesia diperingati dengan pelaksanaan kegiatan baik di Pusat maupun  Daerah/ Kota melalui kemitraan lintas sektor. Di tingkat Nasional,  kegiatan yang dilakukan baik di Pusat maupun Daerah dilaporkan ke WHO  sebagai bukti partisipasi untuk mewujudkan 1.000 kota, 1.000 kehidupan.</p>
<p lang="sv-SE">Di tingkat  Nasional acara puncak diselenggarakan di Kota Tangerang Selatan,  Provinsi Banten yang akan dihadiri para menteri, perwakilan WHO di  Indonesia, masyarakat peduli kesehatan dan dunia usaha.</p>
<p>Sementara di tingkat  Provinsi, Kabupaten/ Kota peringatan HKS ke-62 dperingati dengan  berbagai kegiatan, diantaranya pemberlakuan Hari Tanpa Kendaraan  Bermotor di jalan-jalan utama, perluasan Kawasan Tanpa Rokok di sekolah,  pelayanan kesehatan, tempat kerja dan tempat umum lainnya seperti  restoran dan tempat ibadah. Pengelolaan pasar sehat, penanaman pohon  bagi setiap rumah tangga, penyediaan jalan untuk pengguna sepeda,  memperluas ruang publik untuk taman bermain dan olah raga, pemilihan  sampah basah dan sampah kering di rumah tangga serta menggiatkan olah  raga.</p>
<p>Berita ini disiarkan oleh  Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.  Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon:  021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau  alamat e-mail <a href="http://us.mc1126.mail.yahoo.com/mc/compose?to=%20%3Cscript%20language=%27JavaScript%27%20type=%27text/javascript%27%3E%20%3C%21--%20var%20prefix%20=%20%27mailto:%27;%20var%20suffix%20=%20%27%27;%20var%20attribs%20=%20%27%27;%20var%20path%20=%20%27hr%27%20+%20%27ef%27%20+%20%27=%27;%20var%20addy83082%20=%20%27puskom.publik%27%20+%20%27@%27;%20addy83082%20=%20addy83082%20+%20%27yahoo%27%20+%20%27.%27%20+%20%27co%27%20+%20%27.%27%20+%20%27id%27;%20document.write%28%20%27%3Ca%20%27%20+%20path%20+%20%27%5C%27%27%20+%20prefix%20+%20addy83082%20+%20suffix%20+%20%27%5C%27%27%20+%20attribs%20+%20%27%3E%27%20%29;%20document.write%28%20addy83082%20%29;%20document.write%28%20%27%3C%5C/a%3E%27%20%29;%20//--%3E%20%3C/script%3E%20%3Cscript%20language=%27JavaScript%27%20type=%27text/javascript%27%3E%20%3C%21--%20document.write%28%20%27%3Cspan%20style=%5C%27display:%20none;%5C%27%3E%27%20%29;%20//--%3E%20%3C/script%3EThis%20e-mail%20address%20is%20being%20protected%20from%20spambots.%20You%20need%20JavaScript%20enabled%20to%20view%20it%20%3Cscript%20language=%27JavaScript%27%20type=%27text/javascript%27%3E%20%3C%21--%20document.write%28%20%27%3C/%27%20%29;%20document.write%28%20%27span%3E%27%20%29;%20//--%3E%20%3C/script%3E" target="_blank"></a></p>
<p><!-- Andri edit was here --> <!--  &nbsp;  --> <!--footer--></p>
<br />Filed under: <a href='http://diskeskabtasik.wordpress.com/category/berita/'>Berita</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diskeskabtasik.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diskeskabtasik.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diskeskabtasik.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diskeskabtasik.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diskeskabtasik.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diskeskabtasik.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diskeskabtasik.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diskeskabtasik.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diskeskabtasik.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diskeskabtasik.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diskeskabtasik.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diskeskabtasik.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diskeskabtasik.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diskeskabtasik.wordpress.com/233/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=233&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/04/05/kota-sehat-warga-sehat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c2d6e522e6b403e93c97a7448e73abd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SUBAG_PROGRAM</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TINGKATKAN INOVASI, PERCEPAT AKSI LAWAN TUBERCULOSIS</title>
		<link>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/04/05/tingkatkan-inovasi-percepat-aksi-lawan-ruberculosis/</link>
		<comments>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/04/05/tingkatkan-inovasi-percepat-aksi-lawan-ruberculosis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 06:44:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DINAS KESEHATAN KABUPATEN TASIKMALAYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diskeskabtasik.wordpress.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[Tingkatkan Inovasi, percepat aksi melawan Tuberkulosis adalah tema peringatan Hari TB Sedunia yang ke-128 yang diperingati setiap tanggal 24 Maret untuk menghormati  Ilmuwan Jerman Robert Koch sebagai penemu kuman Mycobacterium tuberculosis penyebab tuberculosis. Hal tersebut disampaikan Menkes, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH. Dr. PH dalam sambutan yang dibacakan dr. Ratna Rosita MPH, Sekretaris Jenderal Kementerian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=230&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tingkatkan Inovasi, percepat aksi  melawan Tuberkulosis  adalah tema peringatan Hari TB Sedunia yang ke-128  yang diperingati  setiap tanggal 24 Maret untuk menghormati  Ilmuwan  Jerman Robert Koch  sebagai penemu kuman Mycobacterium  tuberculosis penyebab  tuberculosis.</p>
<p>Hal tersebut  disampaikan Menkes, dr. Endang Rahayu  Sedyaningsih, MPH. Dr. PH dalam  sambutan yang dibacakan dr. Ratna  Rosita MPH, Sekretaris Jenderal  Kementerian Kesehatan RI,  pada acara  One Day Tuberculosis Symposium   World of Tuberculosis Day 2010 “ On the  movie against Tuberculosis “  Innovate to Accelerate Action pada  tanggal (23/03,2010), di  Jakarta.</p>
<p>Menurut Menkes, TB adalah penyakit menular yang  disebabkan kuman  mycobacterium tuberculosis.  Ketika penderita TB  batuk, bersin,  berbicara atau meludah, mereka memercikkan kuman TB ke  udara. Seseorang  dapat terpapar dengan TB hanya dengan menghirup  sejumlah kecil kuman  TB. Penderita TB dengan status TB BTA (Basil  Tahan Asam) positif dapat  menularkan sekurang-kurangnya kepada 10-15  orang lain setiap tahunnya.</p>
<p>Diperkirakan  setiap tahunnya  terdapat 528.000 kasus baru TB di Indonesia, 70%  di antaranya merupakan usia  produktif dengan angka kematian 91.000  orang serta insiden kasus TB  BTA positif sebesar 110 per 100.000  penduduk, ujar Menkes.</p>
<p>Besar  dan luasnya masalah TB diperberat  dengan kasus TB-MDR (Multi Drug  Resistant) yaitu penderita yang  resisten terhadap OAT, yaitu isoniazid  dan rifampisin yang diketahui  bahwa kedua obat tersebut merupakan  obat utama dalam pengobatan TB.  Pengobatan TB-MDR, selain waktunya  lebih lama harganya pun lebih mahal  dibandingkan dengan pengobatan  dengan strategi DOTS.<br />
Perkiraan kasus  TB-MDR pada pasien yang belum  pernah mendapat pengobatan OAT (Obat  Anti Tuberculosis)  sekitar 2%  dan sekitar 16% pernah mendapatkan  pengobatan OAT. Indonesia  menduduki peringkat ke-3 negara yang  terbanyak mempunyai kasus TB di  dunia, setelah  India dan Cina, dengan  jumlah pasien sekitar 5,8 %  dari total jumlah pasien TB di dunia.</p>
<p>Menkes  berharap agar  seluruh dokter di Indonesia dapat melakukan pengobatan  sesuai dengan  strategi  Directly Observed Shortcourse (DOTS) atau  pengobatan jangka  pendek dengan pengawasan. Strategi ini sudah  diterapkan di hampir  seluruh Puskesmas, beberapa rumah sakit pemerintah , RS  milik  TNI/POLRI dan beberapa klinik swasta.</p>
<p>Diharapkan, semua  dokter  praktek swasta, rumah sakit swasta maupun klinik-klinik milik  swasta  lainnya berpartisipasi dalam  menerapkan strategi DOTS.  Keberhasilan  penanggulangan TB  memerlukan dukungan berbagai pemangku   kepentingan, termasuk  NGO maupun organisasi profesi seperti IDI,  PDPI,  dan PAPDI.</p>
<p>Seminar diselenggarakan RSUP Persahabatan  sebagai  pilot project penanggulangan TB MDR di Indonesia. Diikuti  para direktur  rumah sakit dan Kepala Puskesmas DKI Jakarta.  Pengendalian TB MDR  selain  dilakukan di RSUP Persahabatan, juga di   RSUD dr. Soetomo  Surabaya dan akan diperluas ke daerah lain. Untuk  menegakkan diagnosis  TB-MDR, tidak cukup hanya dengan menggunakan  tes klinis saja, tetapi  perlu ditunjang dengan laboratorium. Saat  ini, di Indonesia terdapat 5  laboratorium pendeteksi TB-MDR yang  tersebar di 4 propinsi, yaitu  Makasar, Surabaya, Jakarta dan Bandung,  kata dr. Priyanti Z. Soepandi,  Dirut RS Persahabatan.</p>
<p>Berita  ini disiarkan oleh Pusat  Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal  Kementerian Kesehatan RI. Untuk  informasi lebih lanjut dapat menghubungi  melalui nomor telepon:  021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center:  021-500567, 30413700, atau  alamat e-mail :</p>
<p><a href="http://us.mc1114.mail.yahoo.com/mc/compose?to=%20%3Cscript%20language=%27JavaScript%27%20type=%27text/javascript%27%3E%20%3C%21--%20var%20prefix%20=%20%27mailto:%27;%20var%20suffix%20=%20%27%27;%20var%20attribs%20=%20%27%27;%20var%20path%20=%20%27hr%27%20+%20%27ef%27%20+%20%27=%27;%20var%20addy3541%20=%20%27puskom.publik%27%20+%20%27@%27;%20addy3541%20=%20addy3541%20+%20%27yahoo%27%20+%20%27.%27%20+%20%27co%27%20+%20%27.%27%20+%20%27id%27;%20document.write%28%20%27%3Ca%20%27%20+%20path%20+%20%27%5C%27%27%20+%20prefix%20+%20addy3541%20+%20suffix%20+%20%27%5C%27%27%20+%20attribs%20+%20%27%3E%27%20%29;%20document.write%28%20addy3541%20%29;%20document.write%28%20%27%3C%5C/a%3E%27%20%29;%20//--%3E%20%3C/script%3E%20%3Cscript%20language=%27JavaScript%27%20type=%27text/javascript%27%3E%20%3C%21--%20document.write%28%20%27%3Cspan%20style=%5C%27display:%20none;%5C%27%3E%27%20%29;%20//--%3E%20%3C/script%3EThis%20e-mail%20address%20is%20being%20protected%20from%20spambots.%20You%20need%20JavaScript%20enabled%20to%20view%20it%20%3Cscript%20language=%27JavaScript%27%20type=%27text/javascript%27%3E%20%3C%21--%20document.write%28%20%27%3C/%27%20%29;%20document.write%28%20%27span%3E%27%20%29;%20//--%3E%20%3C/script%3E"> </a></p>
<br />Filed under: <a href='http://diskeskabtasik.wordpress.com/category/berita/'>Berita</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diskeskabtasik.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diskeskabtasik.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diskeskabtasik.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diskeskabtasik.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diskeskabtasik.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diskeskabtasik.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diskeskabtasik.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diskeskabtasik.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diskeskabtasik.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diskeskabtasik.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diskeskabtasik.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diskeskabtasik.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diskeskabtasik.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diskeskabtasik.wordpress.com/230/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=230&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2010/04/05/tingkatkan-inovasi-percepat-aksi-lawan-ruberculosis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c2d6e522e6b403e93c97a7448e73abd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SUBAG_PROGRAM</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SERING MENGUAP PERTANDA APA ?</title>
		<link>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2009/08/25/sering-menguap-pertanda-apa/</link>
		<comments>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2009/08/25/sering-menguap-pertanda-apa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 03:55:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DINAS KESEHATAN KABUPATEN TASIKMALAYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Kesehatan Populer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diskeskabtasik.wordpress.com/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Melihat orang menguap saat sedang rapat mungkin kita berpikiran dia sedang bosan. Ternyata menguap itu sinyal dari tubuh mulai dari yang biasa hingga masalah serius. Seperti dikatakan Joan Liebmann-Smith Ph.D dan Jacqueline Nardi Egan yang dikutip dari tulisannya Body Sign, How to Be Your Own Diagnostic Detective, Selasa (25/8/2009) orang-orang menguap untuk berbagai macam alasan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=226&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melihat orang menguap saat sedang rapat mungkin kita berpikiran dia sedang bosan. Ternyata menguap itu sinyal dari tubuh mulai dari yang biasa hingga masalah serius.</p>
<p>Seperti dikatakan Joan Liebmann-Smith Ph.D dan Jacqueline Nardi Egan yang dikutip dari tulisannya <em>Body Sign, How to Be Your Own Diagnostic Detective</em>, Selasa (25/8/2009) orang-orang menguap untuk berbagai macam alasan, tapi menguap juga tidak selalu berarti mengantuk.</p>
<p>Ilmuwan percaya menguap dapat membantu seseorang menjadi lebih waspada untuk segera memasukkan oksigen ke otak. Karena menguap adalah salah satu tanda jumlah oksigen di dalam otak sedang menurun yang bisa membuat seseorang sulit konsentrasi.</p>
<p>Namun ilmuwan lain beranggapan menguap justru membantu mengatur suhu tubuh. Dengan menguap maka terjadi proses menaikkan tekanan darah dan laju jantung.</p>
<p>Umumnya menguap adalah aktivitas yang tidak berbahaya atau malah sekedar tanda seseorang sedang bosan. Tapi menguap juga bisa pertanda ada suatu kondisi medis yang serius.</p>
<p>Orang-orang yang memiliki penyakit saraf seperti penyakit <em>Multiple Sclerosis</em> dan <em>Amyotropic Lateral Sclerosis</em> (ASL) menguap lebih banyak dari orang normal.</p>
<p>Orang yang memiliki penyakit darah rendah dengan tekanan darah 90/60 mmHg juga cenderung sering menguap yang diikuti pula dengan mengantuk. Tekanan darah yang normal adalah 120/80 mmHg. Selain sering menguap orang yang memiliki tekanan darah rendah juga sering pusing, cepat lelah dan penglihatan kabur.</p>
<p>Tekanan darah rendah membuat kurangnya darah yang dipompa dari jantung dan jika darah yang dipompa oleh jantung semakin sedikit maka semakin rendah tekanan darahnya. Akibatnya jantung atau otak kekurangan pasokan oksigen dalam darah sehingga membuat seseorang sering menguap, pusing dan lelah.</p>
<p>Kadang-kadang banyak menguap juga akibat reaksi dari terapi radiasi untuk kanker dan juga konsumsi obat-obatan seperti untuk pengobatan penyakit parkinson.</p>
<p>Beberapa antidepresan seperti <em>paroxetine (Paxil)</em> dan <em>setraline (Zoloft)</em> juga bisa menyebabkan menguap berlebihan. Yang menarik justru penderita skizofrenia (kelainan saraf) adalah orang yang jarang menguap.</p>
<p>Fakta penting lagi, hampir semua makhluk vertebrata selalu menguap. Bahkan janin manusia mulai menguap ketika berusia 11 minggu.</p>
<p>Uniknya beberapa pasien di luar negeri mengaku bahwa setiap kali mereka menguap mereka seperti mengalami orgasme spontan. Seorang perempuan bahkan menjadi sangat mahir merasakan orgasme dengan menguap.</p>
<p>Sumber : health.detik.com, 25/8/09</p>
<br />Posted in Artikel Kesehatan Populer  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diskeskabtasik.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diskeskabtasik.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diskeskabtasik.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diskeskabtasik.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diskeskabtasik.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diskeskabtasik.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diskeskabtasik.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diskeskabtasik.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diskeskabtasik.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diskeskabtasik.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diskeskabtasik.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diskeskabtasik.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diskeskabtasik.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diskeskabtasik.wordpress.com/226/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=226&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2009/08/25/sering-menguap-pertanda-apa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c2d6e522e6b403e93c97a7448e73abd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SUBAG_PROGRAM</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemberian ASI Kurangi Penyakit Kanker</title>
		<link>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2009/08/11/pemberian-asi-kurangi-penyakit-kanker/</link>
		<comments>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2009/08/11/pemberian-asi-kurangi-penyakit-kanker/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 03:59:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DINAS KESEHATAN KABUPATEN TASIKMALAYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Kesehatan Populer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diskeskabtasik.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Risiko seorang wanita terkena kanker payudara memang lebih tinggi bila salah satu anggota keluarganya terkena kanker. Karena itu wanita dalam kelompok ini sangat disarankan untuk memberikan bayinya air susu ibu (ASI). Dalam studi jangka panjang terhadap 60.000 wanita, diketahui wanita yang memiliki riwayat kanker payudara di keluarga dekatnya (ibu atau saudara perempuan), mengalami penurunan risiko [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=222&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Risiko seorang wanita terkena kanker payudara memang lebih tinggi bila salah satu anggota keluarganya terkena kanker. Karena itu wanita dalam kelompok ini sangat disarankan untuk memberikan bayinya air susu ibu (ASI).</p>
<p>Dalam studi jangka panjang terhadap 60.000 wanita, diketahui wanita yang memiliki riwayat kanker payudara di keluarga dekatnya (ibu atau saudara perempuan), mengalami penurunan risiko yang sangat signifikan bila mereka menyusui bayinya.</p>
<p>&#8220;Menyusui bukan hanya baik untuk bayi tapi juga si ibu,&#8221; kata ketua peneliti Dr.Alison M.Stuebe dari Universitas North Carolina, Chapel Hill, AS.</p>
<p>Kesimpulan studi ini diperoleh dari penelitian terhadap 60.075 perawat yang baru melahirkan dan berpartisipasi dalam studi Nurse&#8217;s Health Study yang berlangsung antara tahun 1997 dan 2005.</p>
<p>Pada akhir Juni 2005 diketahui ada 608 wanita (sekitar satu persen) yang menderita kanker payudara di usia sekitar 46 tahun. Selain itu para peneliti juga melaporkan, wanita yang keluarga dekatnya menderita kanker payudara, risikonya berkurang hingga 59 persen bila mereka menyusui bayinya.</p>
<p>Penurunan risiko terkena kanker ini lebih terlihat pada wanita yang punya risiko sangat tinggi dan melakukan terapi hormon untuk pencegahan kanker payudara. Sedangkan pada wanita yang tidak memiliki riwayat kanker tidak diketahui adanya hubungan antara menyusui dan kejadian kanker.</p>
<p>Meski demikian, Stuebe menemukan bahwa wanita yang tidak menyusui namun mengonsumsi obat untuk menekan produksi air susunya, memiliki risiko kanker 42 persen lebih rendah bila dibanding dengan wanita yang tidak menyusui atau tidak menggunakan obat untuk menekan produksi ASI.</p>
<p>Menurut peneliti, bila seorang wanita tidak menyusui, jaringan di payudaranya akan kembali seperti pada saat sebelum hamil dan hal ini bisa menyebabkan terjadinya peradangan. Peradangan yang berlangsung sangat progresif diketahui berkaitan dengan kanker payudara.</p>
<p>&#8220;Hipotesa kami, wanita yang menyusui atau mengonsumsi obat penekan produksi ASI akan mencegah terjadinya peradangan,&#8221; kata peneliti dalam laporannya yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Archieves of Internal Medicine.</p>
<p>Sayangnya, masih ada sebagian wanita yang menganggap memberikan ASI kepada bayi sering dianggap ketinggalan zaman dan merusak bentuk tubuh.</p>
<br />Posted in Artikel Kesehatan Populer  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diskeskabtasik.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diskeskabtasik.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diskeskabtasik.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diskeskabtasik.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diskeskabtasik.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diskeskabtasik.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diskeskabtasik.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diskeskabtasik.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diskeskabtasik.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diskeskabtasik.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diskeskabtasik.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diskeskabtasik.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diskeskabtasik.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diskeskabtasik.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diskeskabtasik.wordpress.com&amp;blog=3567216&amp;post=222&amp;subd=diskeskabtasik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diskeskabtasik.wordpress.com/2009/08/11/pemberian-asi-kurangi-penyakit-kanker/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c2d6e522e6b403e93c97a7448e73abd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SUBAG_PROGRAM</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
