KOTA SEHAT WARGA SEHAT

5 04 2010

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), urbanisasi sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan global maupun kesehatan individu. Sejalan dengan hal itu, untuk memperingati Hari Kesehatan Sedunia (HKS ke-62) tanggal 7 April 2010, ditetapkan tema Urbanization and Health, dengan slogan 1000 Cities, 1000 Live. Sedangkan Indonesia berdasarkan Keputusan Menkes No. 350/Menkes/SK/III/2010 menetapkan tema Urbanisasi dan Kesehatan, sub tema Kota Sehat, Warga Sehat dengan slogan 1000 Kota, 1000 Kehidupan.

Sub Tema ” Kota Sehat, Warga Sehat ” dipilih karena kebijakan kota sehat telah berjalan di Indonesia, tetapi masih ditemukan kendala yaitu penyediaan air minum dan sanitasi lingkungan. Untuk mengatasinya, diperlukan komitmen dari semua pemangku kepentingan dan komponen masyarakat mewujudkan kota sehat yang sekaligus berdampak pada peningkatan kesehatan warganya.

Slogan 1000 Kota mempunyai makna suatu ajakan atau motivasi agar lebih dari 1000 kota berikut pimpinan/penentu kebijakan berpartisipasi dalam kegiatan peringatan HKS ke-62. 1000 Kehidupan mempunyai makna adanya penggerak/pahlawan yang melakukan aktivitas meningkatkan kesehatan di lingkungan kehidupannya.

WHO memperkirakan, lebih 3 juta penduduk di dunia hidup di perkotaan. Di tahun 2007, laju pertambahan populasi penduduk perkotaan melampaui 50% dan proporsi ini akan terus bertambah di tahun-tahun mendatang. Diproyeksikan pada tahun 2030, enam dari sepuluh orang akan menjadi penghuni daerah perkotaan dan akan meningkat menjadi tujuh dari sepuluh orang di tahun 2050.

Di Indonesia, pada tahun 2009, lebih dari 43% penduduk tinggal di wilayah perkotaan, dan menurut prediksi pada tahun 2025 akan meningkat menjadi 60%. Akibatnya pemerintah kota akan menghadapi tantangan besar seperti penyediaan air minum, kepadatan lalu lintas, pencemaran udara, perumahan yang tidak sehat, kriminalitas dan penggunaan minuman keras dan obat-obat terlarang.

Berdasarkan data Departemen Perhubungan dan BPS 2004, jumlah kendaraan bermotor antara tahun 2000 dan 2003 bertambah sekitar 12 persen setiap tahunnya. Peningkatan ini diikuti dengan peningkatan pencemaran udara dari asap kendaraan bermotor yang mengeluarkan zat-zat pencemar berbahaya seperti karbon monoksida (CO), hidrokarbon (HC) dan oksida nitrogen (NOx).

Permasalahan lainnya, lebih dari 100 juta rakyat Indonesia masih kekurangan akses terhadap air minum yang aman. Survei Sosial-Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2004 mencatat bahwa hanya 47% penduduk yang dapat mengakses air minum dari sumber yang aman (termasuk 42% penduduk di perkotaan).

Pelaksanaan kegiatan

Peringatan HKS ke-62 di Indonesia diperingati dengan pelaksanaan kegiatan baik di Pusat maupun Daerah/ Kota melalui kemitraan lintas sektor. Di tingkat Nasional, kegiatan yang dilakukan baik di Pusat maupun Daerah dilaporkan ke WHO sebagai bukti partisipasi untuk mewujudkan 1.000 kota, 1.000 kehidupan.

Di tingkat Nasional acara puncak diselenggarakan di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten yang akan dihadiri para menteri, perwakilan WHO di Indonesia, masyarakat peduli kesehatan dan dunia usaha.

Sementara di tingkat Provinsi, Kabupaten/ Kota peringatan HKS ke-62 dperingati dengan berbagai kegiatan, diantaranya pemberlakuan Hari Tanpa Kendaraan Bermotor di jalan-jalan utama, perluasan Kawasan Tanpa Rokok di sekolah, pelayanan kesehatan, tempat kerja dan tempat umum lainnya seperti restoran dan tempat ibadah. Pengelolaan pasar sehat, penanaman pohon bagi setiap rumah tangga, penyediaan jalan untuk pengguna sepeda, memperluas ruang publik untuk taman bermain dan olah raga, pemilihan sampah basah dan sampah kering di rumah tangga serta menggiatkan olah raga.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail 





TINGKATKAN INOVASI, PERCEPAT AKSI LAWAN TUBERCULOSIS

5 04 2010

Tingkatkan Inovasi, percepat aksi melawan Tuberkulosis adalah tema peringatan Hari TB Sedunia yang ke-128 yang diperingati setiap tanggal 24 Maret untuk menghormati  Ilmuwan Jerman Robert Koch sebagai penemu kuman Mycobacterium tuberculosis penyebab tuberculosis.

Hal tersebut disampaikan Menkes, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH. Dr. PH dalam sambutan yang dibacakan dr. Ratna Rosita MPH, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI,  pada acara One Day Tuberculosis Symposium  World of Tuberculosis Day 2010 “ On the movie against Tuberculosis “ Innovate to Accelerate Action pada tanggal (23/03,2010), di Jakarta.

Menurut Menkes, TB adalah penyakit menular yang disebabkan kuman mycobacterium tuberculosis.  Ketika penderita TB batuk, bersin, berbicara atau meludah, mereka memercikkan kuman TB ke udara. Seseorang dapat terpapar dengan TB hanya dengan menghirup sejumlah kecil kuman TB. Penderita TB dengan status TB BTA (Basil Tahan Asam) positif dapat menularkan sekurang-kurangnya kepada 10-15 orang lain setiap tahunnya.

Diperkirakan setiap tahunnya terdapat 528.000 kasus baru TB di Indonesia, 70% di antaranya merupakan usia produktif dengan angka kematian 91.000 orang serta insiden kasus TB BTA positif sebesar 110 per 100.000 penduduk, ujar Menkes.

Besar dan luasnya masalah TB diperberat dengan kasus TB-MDR (Multi Drug Resistant) yaitu penderita yang resisten terhadap OAT, yaitu isoniazid dan rifampisin yang diketahui bahwa kedua obat tersebut merupakan obat utama dalam pengobatan TB. Pengobatan TB-MDR, selain waktunya lebih lama harganya pun lebih mahal dibandingkan dengan pengobatan dengan strategi DOTS.
Perkiraan kasus TB-MDR pada pasien yang belum pernah mendapat pengobatan OAT (Obat Anti Tuberculosis)  sekitar 2% dan sekitar 16% pernah mendapatkan pengobatan OAT. Indonesia menduduki peringkat ke-3 negara yang terbanyak mempunyai kasus TB di dunia, setelah  India dan Cina, dengan jumlah pasien sekitar 5,8 % dari total jumlah pasien TB di dunia.

Menkes berharap agar seluruh dokter di Indonesia dapat melakukan pengobatan sesuai dengan strategi  Directly Observed Shortcourse (DOTS) atau pengobatan jangka pendek dengan pengawasan. Strategi ini sudah diterapkan di hampir seluruh Puskesmas, beberapa rumah sakit pemerintah , RS milik TNI/POLRI dan beberapa klinik swasta.

Diharapkan, semua dokter praktek swasta, rumah sakit swasta maupun klinik-klinik milik swasta lainnya berpartisipasi dalam  menerapkan strategi DOTS. Keberhasilan penanggulangan TB  memerlukan dukungan berbagai pemangku kepentingan, termasuk  NGO maupun organisasi profesi seperti IDI, PDPI, dan PAPDI.

Seminar diselenggarakan RSUP Persahabatan sebagai pilot project penanggulangan TB MDR di Indonesia. Diikuti para direktur rumah sakit dan Kepala Puskesmas DKI Jakarta. Pengendalian TB MDR selain  dilakukan di RSUP Persahabatan, juga di  RSUD dr. Soetomo Surabaya dan akan diperluas ke daerah lain. Untuk menegakkan diagnosis TB-MDR, tidak cukup hanya dengan menggunakan tes klinis saja, tetapi perlu ditunjang dengan laboratorium. Saat ini, di Indonesia terdapat 5 laboratorium pendeteksi TB-MDR yang tersebar di 4 propinsi, yaitu Makasar, Surabaya, Jakarta dan Bandung, kata dr. Priyanti Z. Soepandi, Dirut RS Persahabatan.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail :








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.