PELAYANAN KESEHATAN DASAR

22 07 2010

KUNJUNGAN PASIEN KE PUSKESMAS TAHUN 2009

Kunjungan rawat jalan di 40 Puskesmas :

- Tahun 2008 : 950.697 kunjungan (rata-rata kunjungan per puskesmas per hari : 72 kunjungan)

- Tahun 2009 : 1.048.612 kunjungan (rata-rata kunjungan per puskesmas per hari : 40 kunjungan)

Kunjungan rawat inap di 8 puskesmas DTP :

- Tahun 2008 : 9.261 orang (rata-rata setiap puskesmas DTP melayani 1.158 pasien rawat inap dalam satu tahun)

- Tahun 2009 : 14.758 orang (rata-rata setiap puskesmas DTP melayani 984 pasien rawat inap dalam satu tahun)

PELAYANAN IBU HAMIL DI PUSKESMAS

Kunjungan pemeriksaan kehamilan tahun 2009 : 46.276 orang ibu hamil

- Kunjungan pertama (K1) : 90,59%

- Kunjungan berikutnya (K4) : 78,87%

PELAYANAN PERSALINAN

Jumlah ibu hamil tahun 2009 : 46.276 orang

jumlah persalinan : 43.261 persalinan

Dari seluruh persalinan yang terjadi, persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan

RUJUKAN IBU HAMIL RISIKO TINGGI

Dari 46.276 ibu hamil yang ada terdapat 6.949 ibu hamil (15,01%) memiliki risiko tinggi dan diantaranya sebanyak 282 ibu hamil (0,88%) yang berisiko tinggi tersebut sampai dilakukan rujukan.

KUNJUNGAN NEONATUS

Cakupan kunjungan neonatal (KN) adalah prosentase neonatal (bayi kurang dari satu bulan) yang memperoleh pelayanan kesehatan minimal dua kali dari tenaga kesehatan satu kali pada umur 0-7 hari dan satu kali pada umur 8-28 hari.

Cakupan kunjungan neonatal yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya :

- Tahun 2006 : 70,91%

- Tahun 2007 : 75,77 %

- Tahun 2008 : 77,78%

- Tahun 2009 : 88,11% dari jumlah neonatus sebanyak 41.201 orang

KUNJUNGAN BAYI

Cakupan kunjungan bayi di Kabupaten Tasikmalaya :

- Tahun 2008 : 76,59% (dari 38.113)

- Tahun 2009 : 77,53% (dari 41.201)

PESERTA KB AKTIF

Cakupan peserta KB aktif di Kabupaten Tasikmalaya :

- Tahun 2008 : 78,25%

- Tahun 2009 : 73,77%

Jumlah peserta KB baru : 69.094 orang (18,96%)

Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) : 364.431 orang

Peserta KB aktif sebanyak 147.758 orang (54,96%)

Metode kontrasepsi terpilih untuk peserta KB Aktif pada tahun 2009 :

- Suntik : 147.758 peserta (54,96%)

- Pil : 78.110 peserta (29,05%)

- IUD : 23.292 peserta (8,66%)

- Implan : 8.748 peserta (3,25%)

- MOP/MOW : 5.193 peserta (1,93%)

Prosentase pencapaian peserta KB aktif tertinggi terdapat di Kecamatan Karangnunggal  sebesar 15.077% dan terendah terdapat di Kecamatan Karangjaya 1,985%, sedangkan jumlah per kecamatan rata-rata di Kabupaten Tasikmalaya sekitar 6.893 peserta.

PESERTA KB BARU

Akseptor KB baru :

- Tahun 2008 : 78.302 orang

- Tahun 2009 : 69.094 orang

Jenis kontrasepsi yang dipilih peserta :

- Suntik : 56,56%

- Pil : 30,52%

- IUD : 3,34%

- Implant : 8,50%

- MOV/MOW : 0,43%

CAKUPAN VITAMIN A

Upaya penanggulangan masalah kurang vitamin A masih bertumpu pada pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada anak balita, bayi dan ibu nifas. Pemberian vitamin A ini diharapkan dapat memberikan peran pada integritas sel epitel, immunitas dan reproduksi, bahakan diharapkan dapat mencegah kematian pada anak balita.

Cakupan pemberian vitamin A  untuk tahun 2007 pada balita sebesar 58,86% sedangkan pada ibu nifas mencapai 65,97%. Sedangkan pada tahun 2008 pemberian Vitamin A pada Balita sebanyak 219.036 (63,72%) dan untuk ibu nifas sebanyak 33.395 (70,77%) meningkat apabila dibandingkan dengan tahun 2007 yang hanya  mencapai 65,97%.





HUBUNGAN LINGKUNGAN RUMAH DENGAN KEJADIAN DIFTERI PADA KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) DIFTERI DI KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2005 – 2006 DAN DI KABUPATEN GARUT BULAN JANUARI TAHUN 2007

10 05 2010

Tesis : Basuki Kartono, SKM, MKM.

Universitas Indonesia 2007

Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia

Tesis ini dapat juga diakses pada http://journal.ui.ac.id/?hal=detailArtikel&q=398

ABSTRAK

Telah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Kabupaten Tasikmalaya yang terjadi pada kelompok umur 1 – 15 tahun sebanyak 55 anak (15 kasus meninggal, AR = 0,45% dan CFR = 31,91%). Pada Januari 2007 juga telah terjadi KLB difteri di Kabupaten Garut pada kelompok umur kasus 2 – 14 tahun sebanyak 17 anak (2 kasus meningal, CFR = 11,76%, AR = 1,5%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkungan rumah dengan kejadian difteri pada Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri tersebut. Penelitian menggunakan desain kasus kontrol. Kasus adalah anak usia 1 – 15 tahun yang dinyatakan sebagai penderita difteri maupun karier berdasarkan hasil diagnosis klinis atau hasil pemeriksaan laboratorium yang tercatat pada register rawat jalan atau rawat inap di puskesmas atau rumah sakit yang berasal dari 15 desa lokasi KLB difteri sebanyak 72 anak. Kontrol adalah anak usia 1 – 15 tahun yang bukan penderita atau karier difteri berasal dari 1 desa terpilih secara random yang bukan dari kecamatan lokasi KLB difteri sebanyak.72 anak. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dengan ibu anak pada kelompok kasus maupun kelompok kontrol menggunakan kuesioner untuk mendapatkan data lingkungan rumah, sumber penularan, status imunisasi dan pengetahuan ibu. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan bermakna dengan kejadian difteri adalah kepadatan hunian ruang tidur (nilai p = 0,003,  OR = 15,778), kelembaban dalam rumah (nilai p = 0,041, OR = 18,672), jenis lantai rumah (nilai p = 0,003, OR = 15,790), sumber penularan (nilai p = 0,001, OR = 20,821), status imunisasi (nilai p = 0,000, OR = 46,403) dan pengetahuan ibu (nilai p = 0,007, OR = 9,826). Disimpulkan bahwa lingkungan rumah, pengetahuan ibu dan sumber penularan bukanlah faktor utama yang mempengaruhi terjadinya difteri, sedangkan yang paling dominan dalam mempengaruhi kejadian difteri adalah status imunisasi, yaitu risiko terjadinya difteri pada status imunisasi DPT dan DT yang tidak lengkap 46,403 kali lebih besar dibandingkan dengan status imunisasi yang lengkap. Untuk itu disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut agar lebih meningkatkan pencapaian imunisasi lengkap baik DPT maupun DT disamping meningkatkan pengetahuan tentang imunisasi dan penyakit difteri terutama kepada ibu-ibu dan peningkatan kualitas lingkungan rumah.

Kata Kunci : difteri, KLB, lingkungan rumah

Daftar bacaan : 34 (1964 – 2007)

Abstract
The impact of housing environmental condition on the diphtheria out break in district of Tasikmalaya (2005-2006) and Garut (2007) West Java. Since 2005 up to 2006 diphtheria out break had occur in Tasimalaya District among 1 – 15 year old children. Total cases are 55 children with cases died with the Case Fatality Rate (CFR) 31.91%. Further on, January 2007 the same out break occur in Garut District, with 17 cases and 2 cases died (CFR 11.76%). Research objective is to identify the correlation of housing environmental condition with the diphtheria out break. Design study was case control study. The amount of 72 cases had taken from the 15 villages on the out break areas and the same amount (72) non cases taken from the village out of the out break areas. Data were collected through interviewed with structure questioner with the mother as the respondent. Data collected were housing environment, the source of infection, immunization status, and mother knowledge concerning the diphtheria. Research conclude that factors involved in diphtheria out break are housing member room density, housing humidity, quality of the floor, the source of the infection, immunization status of the children, and mother knowledge about the disease. The importance factors for the diphtheria out break are immunization status, with the OR of 46.403 greater of non immunization children compare with those had immunization. Therefore immunization program should be further intensified in order to give fully diphtheria protection for the hole children population in those areas.
keywords: diphtheria, out break, housing environment

PENDAHULUAN

Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2003, pada tahun 2003 terjadi 54 KLB dengan jumlah kasus sebanyak 86 dan CFR sebesar 23% (Depkes R.I., 2005). Di Propinsi Jawa Barat pada tahun 2003 terjadi KLB Difteri pada 3 kabupaten dengan jumlah penderita 17 orang, 6 orang diantaranya meningal (AR = 0,05%, CFR = 35,29%), pada tahun 2004 terjadi peningkatan jumlah penderita Difteri sebesar 229 orang (Dinkes Prop. Jawa Barat, 2003, 2004). Dari Profil Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya sampai dengan tahun 2004 belum pernah ditemukan kasus difteri maupun KLB Difteri di Kabupaten Tasikmalaya (Diskes Kab. Tasikmalaya, 2000, 2001, 2002, 2003 dan 2004).

Di Kabupaten Tasikmalaya pada akhir bulan Januari 2005 telah ditemukan kasus kematian akibat penyakit difteri pada seorang anak usia 5 tahun dari Desa Cikubang Kecamatan Taraju, berdasarkan investigasi lapangan diperoleh informasi bahwa sebelumnya dari kampung yang sama terdapat juga seorang anak usia 10 tahun yang meningal dengan gejala serupa. Hasil pemeriksaan apus tenggorok terhadap 2 anak teman sepermainan kedua korban tersebut dinyatakan positip difteri. Dari saat inilah Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Kabupaten Tasikmalaya di mulai. Selama tahun 2005 tercatat penderita difteri sebanyak 22 orang diantaranya 8 orang meninggal dan ditemukan 6 orang karier yang tersebar pada 4 kecamatan yang berdekatan, yaitu Kecamatan Taraju, Kecamatan Sodonghilir, Kecamatan Bojongasih dan Kecamatan Karangnunggal selain itu juga ditemukan penderita di dua kecamatan lain (Ciawi dan Rajapolah). Pada tahun 2006 lokasi penderita difteri bertambah dengan Kecamatan Bantarkalong (yang masih berdekatan dengan keempat kecamatan lokasi KLB difteri sebelumnya) dengan jumlah penderita sebanyak 21 orang 5 orang diantaranya meninggal dan diketemukan 2 orang karier. Dengan demikian dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2006 tercatat penderita difteri berjumlah 47 orang, 15 orang diantaranya meningal dan ditemukan 8 orang karier (CFR = 31,91%, AR = 0,45%). Umur penderita Difteri antara 1 tahun sampai dengan 14 tahun. Sedangkan daerah lokasi KLB Difteri tersebar di 14 desa pada 7 lokasi kecamatan tersebut di atas.

Berdasarkan laporan hasil penyelidikan epidemiologi pada tanggal 12 sampai dengan 13 Januari 2007 di Desa Cintanagara Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut telah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit difteri. Jumlah penderita difteri berdasarkan pemeriksaan klinis 11 anak dan berdasarkan pemeriksaan laboratorium diketahui 6 anak positip difteri, diantaranya 2 anak meninggal dunia (CFR = 11,76%, AR = 1,5%). Umur penderita antara 2 sampai dengan 14 tahun.

Dengan demikian pada Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2005 – 2006 dan Kabupaten Garut pada Januari 2007, jumlah kasus sebanyak 72 anak diantaranya 17 anak meninggal dunia (CFR = 23,6%, AR = 0,54%).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Vensya (2002) beberapa faktor yang berkaitan dengan kejadian difteri adalah kepadatan serumah, kepadatan hunian kamar tidur dan adanya sumber penularan. Menurut Soedarmo dalam Depkes (2003) faktor risiko lingkungan rumah dalam penularan penyakit difteri meliputi : kepadatan hunian kamar tidur, ventilasi dan pencahayaan alami.

Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya dan Garut tahun 2005, rata-rata persentase rumah yang memenuhi syarat di lokasi KLB difteri hanya di Kabupaten Tasikmalaya rata-rata hanya 51%.

METODE

Rancangan penelitian. Jenis penelitian ini adalah kasus kontrol, yaitu akan menguji hubungan antara paparan berupa faktor lingkungan rumah (pencahayaan alami dalam rumah, luas ventilasi rumah, kepadatan hunian ruang tidur, suhu dalam rumah, kelembaban dalam rumah, jenis dinding dan jenis lantai rumah), status imunisasi, sumber penularan dan pengetahuan ibu tentang imunisasi dan difteri dengan kejadian difteri.

Lokasi penelitian. Lokasi Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Kabupaten Tasikmalaya tahun 2005 – 2006 adalah Desa Cikubang, Desa Raksasari Kecamatan Taraju; Desa Parumasan, Desa Cukangkawung Kecamatan Sodonghilir; Desa Sindangsari, Desa Bojongasih, Desa Mertajaya Kecamatan Bojongasih; Desa Kujang, Desa Pasirmuncang Kecamatan Karangnunggal, Desa Pamijahan, Desa Hegarwangi, Desa Simpang dan Desa Pamijahan Kecamatan Bantarkalong, Desa Kiarakuda Kecamatan Ciawi dan Desa Sukaraja Kecamatan Rajapolah. Sedangkan lokasi KLB difteri di Kabupaten Garut pada bulan Januari 2007 adalah Desa Sukanagara Kecamatan Cigedug.

Waktu penelitian. Bulan Mei 2007 sampai dengan  Juni 2007.

Besar sampel. Jumlah sampel (n) minimal digunakan software sample size 2.0 (Lemeshow dan Lwanga, 1997) sebesar 62.

Populasi. Anak usia antara 1 – 15 tahun yang tinggal di 14 desa lokasi Kejadian Luar Biasa Difteri di Kabupaten Tasikmalaya dan 1 desa lokasi KLB difteri di Kabupaten Garut.

Sampel kasus. Anak usia 1 – 15 tahun yang dinyatakan sebagai penderita difteri maupun karier berdasarkan hasil diagnosis klinis atau hasil pemeriksaan laboratorium yang tercatat pada register rawat jalan atau rawat inap di puskesmas atau rumah sakit yang berasal dari 7 kecamatan lokasi Kejadian Luar Biasa difteri di Kabupaten Tasikmalaya dari tahun 2005 – 2006 dan dari 1 kecamatan di Kabupaten Garut pada bulan Januari 2007, dengan jumlah keseluruhan sebanyak 72 kasus.

Sampel kontrol. Anak usia 1 – 15 tahun yang bukan penderita atau karier difteri berasal dari 1 desa terpilih secara random yang bukan dari kecamatan lokasi KLB difteri di Kabupaten Tasikmalaya dari tahun 2005 – 2006 maupun desa lokasi KLB difteri di Kabupaten Garut pada bulan Januari 2007, dengan jumlah sampel sebanyak 72 kontrol.

Instrumen. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner tertutup. Kelembaban diukur dengan higrometer dan suhu menggunakan termometer ruang. Untuk menguji validitas dan realibilitas kuesioner telah dilakukan uji coba terhadap 20 responden di luar populasi penelitian.

Analisis data. Analisis univariat (distribusi frekuensi dan proporsi variabel), analisis bivariat (mengetahui kemaknaan dan besarnya hubungan masing-masing variabel, menggunakan uji chi-square (X²) pada α = 5%, analisis multivariat (mengetahui keeratan dan besar hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat setelah dikontrol variabel lain yang bermakna menggunakan regresi logistik).

HASIL

Analisis univariat. Dalam penelitian ini variabel yang diteliti meliputi lingkungan rumah (terdiri atas pencahayaan alami dalam rumah, luas ventilasi rumah, kepadatan hunian kamar tidur, suhu dalam rumah, kelembaban rumah, jenis dinding, jenis lantai rumah), sumber penularan, status imunisasi dan pengetahuan ibu. Distribusi kasus dan kontrol difteri berdasarkan variabel terlihat pada Tabel 1.

Analisis secara univariat adalah sebagai berikut : sebagian besar kasus (69,4%) menempati rumah yang tidak ada sinar matahari masuk ke rumah. 58,3% kasus menempati rumah dengan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat. Sebagian besar kasus (93,1%) menempati rumah dengan kepadatan hunian ruang tidur yang tidak memenuhi syarat. 81,9% kasus menempati rumah yang bersuhu nyaman. Sebagian besar kasus (93,1%) menempati rumah yang mempunyai kelembaban yang tidak memenuhi syarat. 69,4% kasus menmpati rumah yang berdinding bilik/papan. Sebagian besar kasus (65,3%) menempati rumah yang berlantai tanah/ papan. Sebagian besar responden (52,8%) menyatakan ada sumber penularan, yaitu  keberadaan penderita atau karier difteri di lingkungan keluarga, lingkungan rumah atau lingkungan sekolah. 81,9% kasus status imunisasinya tidak lengkap. Sebagian besar responden/ibu (72,2%) dikategorikan memiliki pengetahuan rendah terhadap imunisasi dan penyakit difteri.

Analisis bivariat. Dengan menggunakan uji chi-square (X²) (pada α = 5%) maka diperoleh hubungan variabel-variabel penelitian dengan kejadian difteri (Tabel 2). Dari tabel tersebut diketahui variabel yang mempunyai hubungan bermakna (p < 0,05) dengan kejadian difteri adalah sinar matahari masuk ke rumah, kepadatan hunian ruang tidur, jenis dinding rumah, jenis lantai rumah, sumber penularan, status imunisasi dan pengetahuan ibu.

Analisis Multivariat. Dengan menggunakan uji regresi logistik dilakukan analisis hubungan variabel bebas dengan kejadian difteri secara bersama-sama (Tabel 3). Dari analisis multivariat ini diperoleh hasil 6 variabel berhubungan bermakna dengan kejadian difteri, yaitu kepadatan hunian ruang tidur, kelembaban dalam rumah, jenis lantai rumah, sumber penularan, status imunisasi dan pengetahuan ibu.

PEMBAHASAN

Pencahayaan alami dalam rumah. Pengertian pencahayaan alami dalam rumah  menurut penelitian ini adalah penerangan dalam rumah pada pagi, siang atau sore hari yang berasal dari sinar matahari langsung yang masuk melalui jendela, ventilasi atau genteng kaca minimal selama 10 menit per hari. Variabel ini tidak berhubungan bermakna dengan kejadian difteri. Berdasarkan data kuesioner 62% responden menyatakan ada sinar matahari pagi masuk ke rumah lebih dari 10 menit, dari jumlah tersebut 54% menyatakan sinar matahari masuk melalui jendela, 23% melalui ventilasi dan hanya 1% melalui genteng kaca. Dengan masuknya sinar matahari hanya melalui jendela dan ventilasi, maka terbatas ruangan yang tersinari matahari (ultra violet), sehingga ada kemungkinan tidak cukup untuk mengurangi kelembaban ruangan dan efek sinar ultra violet membunuh kuman penyakit menjadi terbatas.

Luas ventilasi rumah. Variabel ini tidak berhubungan bermakna dengan kejadian difteri. Hal tersebut dikarenakan prosentase ventilasi yang tidak memenuhi syarat baik pada kasus (56%) dan kontrol (44%) tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.

Kepadatan hunian ruang tidur. Hasil penelitian ini sebagian besar kasus menempati rumah dengan kepadatan hunian ruang tidur yang tidak memenuhi syarat atau kurang dari 4 m²/org sebesar 69,1% lebih banyak dibandingkan kontrol yang hanya 30,9%. Dari uji multivariat diperoleh hasil bahwa tinggal di rumah dengan kepadatan hunian ruang tidur yang tidak memenuhi syarat (< 4 m²/org) memberikan peluang terjadinya difteri 15,778 kali dibandingkan dengan tinggal di rumah yang kepadatan hunian ruang tidurnya memenuhi syarat (≥ 4 m²/org). Potensi terjadinya penularan difteri saat tidur sangat memungkinkan karena berdasarkan kuesioner, responden menyatakan bahwa 30% anggota keluarga ada yang menderita difteri atau karier.

Suhu dalam rumah. Variabel ini tidak berhubungan bermakna dengan kejadian difteri. Hal tersebut dikarenakan prosentase antara suhu tidak nyaman pada kasus (56,0%) dan kontrol (44,0%) menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan.

Kelembaban dalam rumah. Hasil penelitian ini sebagian besar kasus menempati rumah dengan kelembaban dalam rumah yang tidak memenuhi syarat (> 70%RH) sebesar 52,8% demikian pula dengan kontrol sebesar 47,2%. Dari uji multivariat diperoleh hasil bahwa tinggal di rumah dengan kelembaban yang tidak memenuhi syarat memberikan peluang terjadinya difteri 18,672 kali dibandingkan tinggal di rumah dengan kelembaban yang memenuhi syarat.

Jenis dinding rumah. Variabel ini tidak berhubungan bermakna dengan kejadian difteri.

Jenis lantai rumah. Dari hasil pengumpulan data atas kategori jenis lantai tanah/papan, semua responden yang dalam kategori ini memiliki jenis lantai rumah berupa papan atau panggung.  Hasil penelitian ini sebagian besar kasus menempati rumah dengan lantai berupa papan atau panggung sebesar 88,7%, lebih besar dibandingkan dengan kontrol yang hanya 11,3%. Dari uji multivariat diperoleh hasil bahwa tinggal di rumah dengan lantai rumah berupa papan atau panggung memberikan peluang terjadinya difteri 15,790 kali dibandingkan dengan tinggal di rumah dengan lantai berupa plesteran atau keramik.

Sebagian besar kasus difteri pada KLB difteri di Kabupaten Tasikmalaya  tahun 2005-2006 dan di Kabupaten Garut pada bulan Januari 2007, bertempat tinggal di daerah dataran tinggi (perkebunan teh) dengan kondisi lahan yang berbukit-bukit, tidak rata dan labil. Pada umumnya masyarakat di daerah ini rumahnya berupa rumah panggung dengan lantai papan, ukuran rumah yang tidak besar dan berkelompok. Hal ini menjadikan tingginya kepadatan hunian kamar tidur dan mudahnya interaksi dengan tetangga karena jarak antar rumah yang berdekatan. Dengan demikian semakin membuka peluang dan besarnya risiko penularan penyakit infeksi, seperti difteri. Berbeda dengan kontrol yang berasal dari wilayah yang sebagian besar rumahnya adalah rumah permanen dengan lantai berupa plesteran atau keramik. Jenis lantai rumah dari papan atau panggung dapat menyebabkan kenaikan kelembaban rumah karena papan bukan bahan kedap air dan pengaruh kelembaban tanah, kelembaban rumah yang tinggi dapat mempengaruhi penurunan daya tahan tubuh seseorang yang selanjutnya akan meningkatkan kerentanan tubuh terhadap penyakit terutama penyakit infeksi.

Sumber penularan. Pengertian sumber penularan dalam penelitian ini adalah terdapatnya seseorang sebagai karier atau penderita difteri yang  tinggal serumah atau tinggal di lingkungan rumah atau teman sepermainan atau teman sekolah. Hasil penelitian ini sebagian besar kasus menyatakan bahwa di lingkungan rumah atau di sekolah anak responden terdapat penderita difteri dan pernah kontak/berhubungan langsung sebesar 86,4%, berbeda sekali dengan kontrol yang menyatakan hal yang sama hanya sebesar 13,6%. Dari uji multivariat diperoleh hasil bahwa keberadaan sumber punularan difteri memberikan peluang terjadinya difteri 20,821 kali dibandingkan dengan tidak adanya sumber penularan.

Dari data kuesioner pada kasus berkaitan dengan keberadaan sumber penularan  tanpa mengetahui proses penularan orang per orang, maka diperoleh informasi dari 37 responden (ibu) menyatakan bahwa 19% sesama anggota keluarga ada penderita difteri,  19% tetangga atau saudara jauh ada penderita difteri, 32% teman bermain ada penderita difteri dan 30% teman sekolah ada penderita difteri.

Berdasarkan data kuesioner tersebut, maka kemungkinan paling besar penularan terjadi di luar lingkungan rumah, yaitu dari teman bermain dan atau teman sekolah. Dengan demikian variabel lingkungan rumah yang berhubungan bermakna, yaitu kepadatan hunian kamar tidur, kelembaban rumah dan jenis lantai rumah bukan sebagai faktor risiko utama terjadinya difteri.

Status imunisasi. Hasil penelitian ini sebagian besar status imunisasi  DPT  dan  DT  kasus  tidak lengkap (< 3 kali), yaitu sebesar 86,8%, berbeda sekali dengan status imunisasi kontrol yang menyatakan hal yang sama hanya sebesar 13,2%. Dari uji multivariat diperoleh hasil bahwa status imunisasi DPT dan DT yang tidak lengkap memberikan peluang terjadinya difteri 46,403 dibandingkan dengan status imunisasi DPT dan DT yang lengkap.

Status imunisasi pada kasus tersebut di atas juga ditegaskan lagi dengan data pencapaian imunisasi DPT 3 di lokasi KLB difteri yang berada di bawah target 80%, yaitu pada tahun 2004 mencapai rata-rata 76% dan pada tahun 2005 terjadi penurunan pencapaian imunisasi yang rata-rata hanya sebesar 61%.

Pengetahuan ibu. Pengertian pengetahuan ibu dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu tentang manfaat dan jenis imunisasi, pengetahuan ibu tentang tanda atau gejala difteri, cara penularan difteri dan imunisasi pencegah difteri. Hasil penelitian ini sebagian besar responden ibu (dari kasus) memiliki pengetahuan tentang imunisasi dan penyakit difteri dikategorikan sebagai pengetahuan rendah sebesar 69,3%, sedangkan terhadap hal yang sama pada responden ibu (dari kontrol)  sebesar 30,7%. Dari uji multivariat diperoleh hasil bahwa pengetahuan ibu yang rendah tentang imunisasi dan penyakit difteri memberikan peluang terjadinya difteri sebesar 9,826 kali dibandingkan dengan pengetahuan ibu yang tinggi.

KESIMPULAN

Lingkungan Rumah :

  1. Pencahayaan alami dalam rumah berupa keberadaan sinar matahari masuk dalam rumah tidak berhubungan dengan kejadian difteri.
  2. Luas ventilasi rumah tidak berhubungan dengan kejadian difteri.
  3. Tinggal di rumah dengan kepadatan hunian ruang tidur yang tidak memenuhi syarat (< 4 m²/org) berisiko tertular difteri 15,778 kali dibandingkan dengan tinggal di rumah yang kepadatan hunian ruang tidurnya memenuhi syarat (≥ 4 m²/org).
  4. Suhu dalam rumah tidak berhubungan dengan kejadian difteri.
  5. Tinggal di rumah dengan kelembaban yang tidak memenuhi syarat (< 40%RH atau > 70%RH) berisiko terjadinya difteri 18,672 kali dibandingkan tinggal di rumah dengan kelembaban yang memenuhi syarat (40% – 70%).
  6. Jenis dinding rumah tidak berhubungan dengan kejadian difteri.
  7. Rumah dengan jenis lantai berupa papan atau panggung meningkatkan risiko terjadinya difteri sebesar 22,029 kali dibandingkan rumah dengan jenis lantai berupa plesteran atau keramik.

Status Imunisasi. Seorang anak dengan status imunisasi DPT dan DT yang tidak lengkap mempunyai risiko menderita difteri 46,403 kali dibandingkan seorang anak dengan status imunisasi DPT dan DT lengkap.

Sumber Penularan. Keberadaan sumber penularan dalam hal ini adalah seorang penderita difteri atau seseorang yang telah terkena bakteri difteri tanpa menunjukkan gejala sakit difteri memberikan risiko penularan difteri 20,821 kali dibandingkan bila tidak ada sumber penularan.

Pengetahuan Ibu. Ibu yang mempunyai pengetahuan rendah tentang imunisasi dan difteri memberikan peluang terjadinya difteri pada anak-anak mereka sebanyak 9,826 kali dibandingkan dengan ibu yang mempunyai pengetahuan tinggi tentang imunisasi dan difteri.

Variabel Paling Dominan. Status imunisasi DPT dan DT anak adalah faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi terjadinya difteri.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terimakasih sebesar-besarnya patut penulis sampaikan kepada Bapak Dr. dr. Rachmadhi Purwana, SKM. dan Bapak Dr. dr. I Made Djaja, SKM, MSc. yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya dan Dinas Kesehatan Kabupaten Garut yang telah mengijinkan pelaksanaan penelitian ini termasuk juga kepada rekan-rekan di Bidang Pemberantasan Penyakit Menular baik di Kabupaten Tasikmalaya maupun di Kabupaten Garut yang telah membantu dalam pengumpulan data lapangan. Ucapan terima kasih kepada Second Provincial Health Project Propinsi Jawa Barat melalui District Funding Allocation Kabupaten Tasikmalaya yang telah menyediakan dukungan dana penelitian. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih pula kepada Ibu Hj. drg. Ririn Arminsih Wulandari, M.Kes. dan saudara Hendri Hendriyan, SKM, M.Epid. yang telah banyak memberikan sumbang saran atas hasil penelitian ini dan kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Atkinson, Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases, United State Department of Health and Human Service, Centres for Disease Control and Prevention, 2000.
  2. Azrul Azwar, Epidemiologi dan Kontrol Penyakit Lingkungan yang Ditularkan Melalui Udara, Jurnal Majalah Kesehatan Masyarakat, 1985.
  3. Azrul Azwar, Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan, Mutiara Sumber Widya, Jakarta, 1990.
  4. Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat, Kualitas Lingkungan Hidup Penentu Kualitas Kesehatan, diakses 3 Maret 2007, http://www.bplhdjabar.go.id.
  5. Bapeda Kabupaten Garut, Sekilas Kabupaten Garut, diakses 1 Juli 2007, http://www.garut.go.id
  6. Bapeda Kabupaten Tasikmalaya, Tasikmalaya Dalam Angka Tahun 2005, Tasikmalaya, 2006.
  7. Benenson, Control of Communicable Disease Manual, 16th Edition Washington, DC, 2000.
  8. Biofarma, Vaksin DT, diakses 30 Maret 2007, http://www.biofarma.co.id
  9. Bisma Murti, Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1997.
  10. Centres for Disease Control and Prevention, Diphtheria, United State Department of Health and Human Service, diakses 3 Maret 2007, http://www.cdc.gov.
  11. Departemen Kesehatan R.I., Profil Kesehatan Indonesia 2003, Jakarta, 2005.
  12. Departemen Kesehatan R.I., Prosedur Kerja Surveilans Faktor Risiko Penyakit Menular dalam Intensifikasi Pemberantasan Penyakit Menular Terpadu Berbasis Wilayah, Jakarta, 2003.
  13. Departemen Kesehatan R.I., Keputusan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 829/MENKES/SK/VII/1999, Jakarta, 2000.
  14. Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Profil Kesehatan Kabupaten Garut Tahun 2004, Tasikmalaya, 2005.
  15. Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, Profil Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2005, Tasikmalaya, 2006; 2005; 2004; 2003; 2002.
  16. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, Profil Kesehatan Propinsi Jawa Barat Tahun 2004, Bandung, 2005; 2004,
  17. Dinata, Aspek Teknis Dalam Penyehatan Rumah, diakses 12 Juli 2007, http://www.miqralingkungan.blogspot.com.
  18. Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia, Diphtheriae, diakses 3 Maret 2007, http://www.fkuii.org.
  19. Hartono, Hal Ikhwal Imunisasi dan Aplikasinya, Bio Farma Bandung, Bandung, 1987.
  20. Homeier, Infections Diphtheria, Nemours Foundation. Diakses 3 Maret 2007, http://www.kidshealth.org/parent/infections/bacterial_viral/diphtheria.html.
  21. Muhammad, K. Peranan Keluarga dalam Kesehatan, Majalah Prisma No. 3 tahun XVII, Jakarta, 1998.
  22. Ohio State University Medical Center, Diptheria, diakses 3 Maret 2007, http://www.medicalcenter.osu.edu
  23. Oki Zulkifli, Surveilans Penyakit Dipteri, Majalah Sehat_i vol.1 2005, Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, Tasikmalaya, 2005.
  24. Lemeshow, dkk. Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan, diterjemahkan oleh drg. Dibyo Pramono, SU, MDSc., Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1997.
  25. Markum, Imunisasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987.
  26. Medicastore, Imunisasi, diakses 30 Maret 2007, http://www.madicastore.com.
  27. Waldo E. Nelson, (editor), Textbook of Pediatrics, 8th edition, W.B. Saunders Company, Philadelphia, London, 1964..
  28. Siahaan, A, H. Pengaruh Genangan Pasang pada Lingkungan Pembinaan Rumah terhadap Kesehatan, Tesis S2 Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Jakarta, 1991.
  29. Soekidjo Notoatmodjo, Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Penerbit PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2003.
  30. Soekidjo Notoatmodjo, Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Penerbit Andi Offset, Yogyakarta, 2000.
  31. Soesanto, Hubungan Kondisi Perumahan dengan Penularan Penyakit ISPA dan TB Paru, Bahan Lokakarya Sehari Penyehatan Perumahan, Jakarta, 2000.
  32. Suyitno, R, H. Pengamatan Vaksinasi dalam Hubungannya dengan Berbagai Tingkat Gizi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Jakarta, 1990.
  33. Sutanto PH, Modul Analisis Data, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta, 2001.
  34. Vensya Sitohang, Hubungan Kepadatan Serumah dengan Kejadian Difteri pada Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di Kabupaten Cianjur Jawa Barat Tahun 2000 – 2001, Tesis S2 Program Studi Epidemiologi Kekhususan Epidemiologi Lapngan Universitas Indonesia, Jakarta, 2002.




’4 Terlalu’ dan ’3 Terlambat’ Sumbang Angka Kematian Ibu

10 05 2010

Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi. Tingginya AKI antara lain dipicu oleh 4 kondisi kehamilan yang tidak ideal atau yang disebut “4 terlalu” dan situasi yang diindikasikan dengan ’3 terlambat’.

Demikian disampaikan oleh ketua Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Dr. Dewi Motik Pramono, M.Si dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar, S.Ip dalam dialog nasional “Tanggung Jawab Bersama Mengurangi Kematian Ibu dan Balita” di Jakarta, Senin (10/5/2010).

Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, mencatat AKI mencapai 228/100.000 kelahiran hidup. Diperkirakan, tiap jam terjadi 2 kematian ibu.

Dr. Dewi Motik menyampaikan tingginya AKI antara lain dipicu oleh 4 kondisi kehamilan yang tidak ideal yang disebut ’4 terlalu’ yang berdasarkan data SDKI 2007 adalah:

  1. Kehamilan terlalu muda (kurang dari 18 tahun) menyebabkan 3 persen
  2. kematian ibu di Indonesia.
  3. Usia yang terlalu tua untuk hamil (di atas 34 tahun) yakni 4,7 persen
  4. Jarak kehamilan terlalu dekat (kurang dari 2 tahun) 5,5 persen
  5. Kehamilan terlalu banyak (lebih dari 3 anak) 8,1 persen.

“Survei menunjukkan Jawa Barat remaja putri yang menikah di bawah usia 16 tahun mencapai 16 persen. Proporsi kehamilan mencapai 4,1 persen”, ungkap Dr Dewi Motik.

Untuk mencegah 4 kondisi tidak ideal itu dibutuhkan pengaturan kehamilan melalui alat kontrasepsi. Tujuannya dibagi menjadi 3 yakni tujuan yakni untuk menunda, menjarangkan dan membatasi kehamilan.

Sementara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar, S.Ip. mengungkap bahwa tingginya AKI dipicu oleh sebab langsung dan tidak langsung. Sebab langsung antara lain perdarahan, aborsi, eklamsia dan partus lama. Keempatnya menyumbang 70 persen AKI.

Sementara sebab tak langsung antara lain tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan, faktor budaya dan akses trasportasi. Situasi ini diindikasikan dengan ’3 Terlambat’ yaitu:

  1. Terlambat mengambil keputusan, sehingga terlambat untuk mendapat penanganan.
  2. Terlambat sampai ke tempat rujukan karena kendala transportasi.
  3. Terlambat mendapat penanganan karena terbatasnya sarana dan sumber daya manusia.

Senada dengan itu, Menteri Kesehatan Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR. PH membenarkan bahwa sumber daya manusia terutama bidan masih kurang. Oleh karenanya, tenaga medis yang lain perlu diberdayakan.

“Secara jumlah, sebenarnya cukup tetapi distribusinya belum merata. Untuk itu dokter umum di daerah tertentu perlu dibekali keterampilan ‘plus’ supaya bisa membantu persalinan,” ungkap Menkes.

(Sumber : http://health.detik.com)





Perbaiki Kualitas Tidur Jika Ingin Panjang Umur

3 05 2010

Bila menginginkan umur panjang, mulailah memperbaiki kualitas tidur. Sebuah penelitian membuktikan bahwa sebagian besar orang yang mencapai usia 100 tahun memiliki kualitas tidur yang baik.

“Usia dan kondisi kesehatan merupakan 2 hal yang paling dipengaruhi oleh durasi dan kualitas tidur,” kata Danan Gu, Ph.D. dari Portland State University yang memimpin penelitian tersebut, dikutip dari ScienceDaily, Senin (3/5/2010).

Sejak tahun 2005, Gu dan rekan-rekannya melakukan pengamatan terhadap 15.638 warga China berusia 65 tahun ke atas, yang tersebar di 22 provinsi. Sebanyak 2.794 di antarnya berusia 100 tahun atau lebih, sedangkan yang berusia 90-97 tahun sebanyak 3.927 orang.

Kualitas tidur pada 65 persen partisipan termasuk kategori bagus dan sangat bagus, dengan durasi rata-rata 7,5 jam sehari termasuk tidur siang. Yang mengejutkan, partisipan dengan usia 100 tahun ke atas memiliki kualitas tidur 70 persen lebih bagus dibandingkan yang berusia 65-79 tahun.

Masalah kesehatan juga erat kaitannya dengan kualitas tidur. Pengalaman tidur nyenyak pada partisipan yang punya masalah kesehatan teramati 46 persen lebih rendah. Ini terjadi pada partisipan yang mengalami kegelisahan, penyakit kronis, maupun rutinitas hidup yang tidak menyenangkan.

Fakta lain yang terungkap adalah, adanya hubungan antara jenis kelamin dengan kualitas tidur. Pengalaman tidur nyenyak pada partisipan pria 23 persen lebih banyak dibandingkan pada partisipan wanita.

Survei ini sebenarnya memang tidak didesain untuk melihat hubungan sebab-akibat. Namun dari data yang ada, para peneliti meyakini terdapat kaitan yang erat antara kualitas tidur dengan kesehatan dan umur panjang.

Sengaja dipilih China sebagai lokasi penelitian, karena populasi lansia di wilayah tersebut tercatat paling tinggi di dunia. Berdasarkan data Bank Dunia (World Bank), hampir 40,5 juta dari total 1,3 miliar penduduk China memiliki usia 75 tahun ke atas.

Hasil pengamatan sejak tahun 2005 tersebut telah dipublikasikan pada jurnal Sleep edisi 1 Mei 2010. Pada akhir tahun ini, tim yang sama juga akan mempublikasikan data tahun 2008-2009 sebagai pembandingnya.

Sumber : http://health.detik.com/read/2010/05/03/074048/1349773/766/perbaiki-kualitas-tidur-jika-ingin-panjang-umur?l991101755





AKSES MASYARAKAT TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN SEMAKIN MEMBAIK

3 05 2010

Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi termasuk keluarga berencana semakin membaik. Hal ini ditandai dengan tersedianya fasilitas pelayanan kesehatan primer meliputi 8.721 puskesmas, 22.337 Puskesmas pembantu, yang didukung upaya kesehatan bersumber masyarakat yang meliputi 51.996 Poskesdes dan 266.827 Posyandu. Di setiap kabupaten/kota minimal 4 Puskesmas rawat inap yang menyediakan pelayanan kegawatdaruratan kesehatan ibu dan reproduksi, saat ini telah tersedia 69 persen dari target 1.948 Puskesmas Rawat Inap. Fasilitas pelayanan kesehatan sekunder dan tersier yang memberikan pelayanan ibu dan kesehatan reproduksi termasuk pelayanan keluarga berencana rumah sakit meliputi 613 rumah sakit kabupaten/kota, provinsi dan pusat.

Dengan peningkatan akses pelayanan kesehatan tersebut, cakupan pelayanan antenatal empat kali kunjungan telah mencapai 84 persen (2009), cakupan persalinan ditolong tenaga kesehatan 83 persen (2009), cakupan pelayanan postpartum 81 persen (2008) dan cakupan pelayanan KB modern 57 persen (2007).

Demikian sambutan Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR.PH ketika meluncurkan program Keluarga Berencana Terkini (Advance Family Planning-AFP), bersama Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), DR. Dr Sugiri Syarief, MPA di Hotel JW. Marriot, Jakarta, 6 April 2010.

Dalam peluncuran AFP, Menkes mengatakan bahwa Millenium Development Goals telah menjadi komitmen Pemerintah Republik Indonesia yang secara konstitusional telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014 yaitu: menurunnya angka kematian bayi dari 34 per 1000 kelahiran hidup (SDKI 2007) menjadi 24 per 1000 kelahiran hidup, sedangkan target yang akan dicapai pada tahun 2015 adalah 23; Menurunnya angka kematian ibu dari 228 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2007) menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan target yang akan dicapai pada tahun 2015 adalah 102; Meningkatnya Contraceptive Prevalence Rate (CPR) modern dari 57 persen (SDKI 2007) menjadi 65 persen, sama dengan target MDGs 2015; termasuk menurunnya kebutuhan yang belum terpenuhi (unmet need) ber-KB dari 9,1 persen (SDKI 2007) menjadi 5 persen, sama dengan target MDGs 2015.

Untuk mencapai target RPJMN 2014 dan MDGs 2015 dalam kesehatan ibu dan reproduksi termasuk keluarga berencana, masih ada tantangan yang perlu mendapat perhatian khusus yaitu adanya disparitas antar wilayah, antara perkotaan dan perdesaan, masyarakat kaya dan miskin, tingkat pendidikan tinggi dan rendah. Selain hal tersebut masih ada isu terkait penyediaan SDM kesehatan yang mempunyai kompetensi untuk memberikan pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi termasuk pelayanan keluarga berencana, serta pembiayaan dan penganggaran terutama dikaitkan dengan prioritas kebijakan pemerintah daerah pada era desentralisasi.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Kementerian Kesehatan telah melakukan langkah-langkah yang dimulai dari reformasi upaya kesehatan, revitalisasi Puskesmas, meningkatkan pembiayaan dan anggaran kesehatan yang difokuskan untuk mencapai universal coverage melalui perluasan jangkauan jamkesmas dan penyediaan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).

Peluncuran AFP ini bertujuan untuk menandai perubahan komitmen untuk meningkatkan upaya bersama untuk meningkatkan keluarga berencana dan mencapai akses universal atas kesehatan reproduksi (MDG ke-5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu).

AFP adalah suatu inisiatif yang memiliki ciri berbasis data/bukti nyata (evidence-based) yang bertujuan untuk merevitalisasi program keluarga berencana melalui peningkatan anggaran yang efektif dan komitmen kebijakan di tingkat lokal, nasional dan global. Oleh sebab itu Menkes berharap agar dalam menentukan daerah intervensi AFP, hendaknya menggunakan data yang telah tersedia antara lain SDKI, Riskesdas dan data program terkait di Kementerian Kesehatan, BKKBN dan Kementerian Dalam Negeri.

Turut hadir dalam acara ini di antaranya Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Dra. Harni Koesno, MKM; Deputi SDM dan Kebudayaan Bappenas, Dra. Nina Sardjunani, MA; AFP Project Director Duff Gilespie, USAID Deputy Mission Director, Scott Dobberstein, dan lain-lain.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan.





BERSAMA KITA BERANTAS MALARIA

3 05 2010

Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia. Penyakit ini mempengaruhi tingginya angka kematian ibu hamil, bayi dan balita. Setiap tahun lebih dari 500 juta penduduk dunia terinfeksi malaria dan lebih dari 1.000.000 orang meninggal dunia. Kasus terbanyak terdapat di Afrika dan beberapa negara Asia termasuk Indonesia, Amerika Latin, Timur Tengah dan beberapa bagian negara Eropa.

Sedangkan di Indonesia, sampai tahun 2009, sekitar 80% Kabupaten/Kota masih termasuk katagori endemis malaria dan sekitar 45% penduduk bertempat tinggal di daerah yang berisiko tertular malaria.Sementara jumlah kasus yang dilaporkan pada tahun 2009 sebanyak 1.143.024 orang. Jumlah ini mungkin lebih kecil dari keadaan yang sebenarnya karena lokasi yang endemis malaria adalah desa-desa yang terpencil dengan sarana transportasi yang sulit dan akses pelayanan kesehatan yang rendah.

Untuk mengatasi malaria, pada pertemuan WHA 60 tanggal 18-23 Mei 2007 telah disepakati komitmen global tentang eliminasi malaria setiap negara dan merekomendasikan bagi negara-negara yang endemis malaria memperingati Hari Malaria Sedunia setiap tanggal 25 April. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja dalam menuju eliminasi malaria serta meningkatkan kepedulian dan peran aktif masyarakat dalam penanggulangan dan pencegahan malaria.

Tahun ini merupakan tahun ketiga peringatan Hari Malaria Sedunia dengan tema ”BERSAMA KITA BERANTAS MALARIA”. Tujuannya untuk meningkatkan kemitraan dalam mencapai eliminasi malaria di Indonesia. Selain itu juga untuk meningkatnya kesadaran para mitra untuk berperan aktif dalam eliminasi malaria, meningkatnya komitmen para penentu kebijakan di Pusat dan Daerah untuk melakukan eliminasi malaria, serta meningkatnya kemitraan dalam kegiatan eliminasi malaria.

Peringatan Hari Malaria Sedunia (HMS) tahun 2010 diharapkan dapat lebih meningkatkan advokasi, edukasi dan sosialisasi kepada semua stakeholder dan masyarakat sehingga eliminasi malaria dapat segera dicapai. Mengingat malaria merupakan masalah yang komplek terkait dengan aspek penyebab penyakit (parasit), lingkungan (fisik dan biologis) dan nyamuk sebagai vektor penular maka eliminasi malaria harus dilaksanakan secara bersama dengan para mitra terkait dan menjadi bagian integral dari pembangunan nasional.

Peringatan HMS Tahun 2010 diisi dengan berbagai kegiatan di Pusat maupun Daerah, diantaranya Workshop Nasional tentang Penelitian Malaria di Indonesia tanggal 10 Mei 2010, Workshop Pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Eliminasi Malaria tanggal 18 Mei 2010. Sedangkan pada puncak acara akan dilakukan peresmian Malaria Center di Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara oleh Menteri Kesehatan tanggal 24 April 2010.

Sebaran malaria dibedakan menjadi daerah non endemis dan endemis. Daerah dikatakan non endemis bila di daerah itu tidak terdapat penularan malaria atau angka kejadian malaria (Annual Parasite Incident = API ) nol. Termasuk daerah non endemis adalah provinsi DKI Jakarta, Bali, dan Kepri (Barelang Binkar).

Sedangkan daerah endemis malaria dibedakan menjadi endemis tinggi, endemis sedang dan endemis rendah.

Dikatakan endemis tinggi bila API-nya lebih besar dari 50 per 1.000 penduduk yaitu di Provinsi Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Sumatera Utara (Kab. Nias dan Nias Selatan), dan NTT.

Endemis Sedang bila API-nya berkisar antara 1 sampai kurang dari 50 per 1.000 penduduk yaitu di provinsi Aceh (Kab. Siemeulu), Bangka Belitung, Kepri (Kab. Lingga), Jambi (Kab. Batang Hari, Merangin, dan Sorolangun), Kalimantan Tengah (Kab. Sukamara, Kota waringin barat), Mura), Sulteng (Kab. Toli-toli, Banggai, Banggai Kepulauan, Poso), Sultra (Kab. Muna), NTB (Sumbawa Barat, Dompu, Kab.Bima, dan Sumbawa), Jawa Tengah (Wonosobo, Banjarnegara, Banyumas, Pekalongan dan Sragen), Jawa Barat (Sukabumi, Garut, dan Ciamis).

Endemis rendah bila API-nya 0 – 1 per 1.000, diantaranya sebagian Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Upaya pemerintah dalam program pengendalian malaria yaitu Diagnosa Malaria harus terkonfirmasi mikroskop atau Rapid Diagnostic Test; Pengobatan menggunakan Artemisinin Combination Therapy; Pencegahan penularan malaria melalui: distribusi kelambu (Long Lasting Insecticidal Net), Penyemprotan rumah, repellent, dan lain-lain; Kerjasama Lintas Sektor dalam Forum Gebrak Malaria; dan Memperkuat Desa Siaga dengan pembentukan Pos Malaria Desa (Posmaldes).

Seseorang yang terkena malaria dapat mengalami anemia. Pada kasus malaria berat dapat menyebabkan koma, kegagalan multi organ serta menyebabkan kematian.Namun malaria dapat dicegah.

Cara mencegah malaria yaitu dengan menghindari gigitan nyamuk malaria diantaranya dengan tidur di dalam kelambu, mengolesi badan dengan obat anti gigitan nyamuk (Repelent); membersihkan tempat-tempat hinggap/istirahat nyamuk dan memberantas sarang nyamuk; membunuh nyamuk dewasa dengan menyemprot rumah-rumah dengan racun serangga; membunuh jentik-jentik nyamuk dengan menebarkan ikan pemakan jentik; membunuh jentik nyamuk dengan menyempot obat anti larva (jentik) pada genangan air dan melestarikan hutan bakau di rawa-rawa sepanjang pantai

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.





KOTA SEHAT WARGA SEHAT

5 04 2010

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), urbanisasi sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan global maupun kesehatan individu. Sejalan dengan hal itu, untuk memperingati Hari Kesehatan Sedunia (HKS ke-62) tanggal 7 April 2010, ditetapkan tema Urbanization and Health, dengan slogan 1000 Cities, 1000 Live. Sedangkan Indonesia berdasarkan Keputusan Menkes No. 350/Menkes/SK/III/2010 menetapkan tema Urbanisasi dan Kesehatan, sub tema Kota Sehat, Warga Sehat dengan slogan 1000 Kota, 1000 Kehidupan.

Sub Tema ” Kota Sehat, Warga Sehat ” dipilih karena kebijakan kota sehat telah berjalan di Indonesia, tetapi masih ditemukan kendala yaitu penyediaan air minum dan sanitasi lingkungan. Untuk mengatasinya, diperlukan komitmen dari semua pemangku kepentingan dan komponen masyarakat mewujudkan kota sehat yang sekaligus berdampak pada peningkatan kesehatan warganya.

Slogan 1000 Kota mempunyai makna suatu ajakan atau motivasi agar lebih dari 1000 kota berikut pimpinan/penentu kebijakan berpartisipasi dalam kegiatan peringatan HKS ke-62. 1000 Kehidupan mempunyai makna adanya penggerak/pahlawan yang melakukan aktivitas meningkatkan kesehatan di lingkungan kehidupannya.

WHO memperkirakan, lebih 3 juta penduduk di dunia hidup di perkotaan. Di tahun 2007, laju pertambahan populasi penduduk perkotaan melampaui 50% dan proporsi ini akan terus bertambah di tahun-tahun mendatang. Diproyeksikan pada tahun 2030, enam dari sepuluh orang akan menjadi penghuni daerah perkotaan dan akan meningkat menjadi tujuh dari sepuluh orang di tahun 2050.

Di Indonesia, pada tahun 2009, lebih dari 43% penduduk tinggal di wilayah perkotaan, dan menurut prediksi pada tahun 2025 akan meningkat menjadi 60%. Akibatnya pemerintah kota akan menghadapi tantangan besar seperti penyediaan air minum, kepadatan lalu lintas, pencemaran udara, perumahan yang tidak sehat, kriminalitas dan penggunaan minuman keras dan obat-obat terlarang.

Berdasarkan data Departemen Perhubungan dan BPS 2004, jumlah kendaraan bermotor antara tahun 2000 dan 2003 bertambah sekitar 12 persen setiap tahunnya. Peningkatan ini diikuti dengan peningkatan pencemaran udara dari asap kendaraan bermotor yang mengeluarkan zat-zat pencemar berbahaya seperti karbon monoksida (CO), hidrokarbon (HC) dan oksida nitrogen (NOx).

Permasalahan lainnya, lebih dari 100 juta rakyat Indonesia masih kekurangan akses terhadap air minum yang aman. Survei Sosial-Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2004 mencatat bahwa hanya 47% penduduk yang dapat mengakses air minum dari sumber yang aman (termasuk 42% penduduk di perkotaan).

Pelaksanaan kegiatan

Peringatan HKS ke-62 di Indonesia diperingati dengan pelaksanaan kegiatan baik di Pusat maupun Daerah/ Kota melalui kemitraan lintas sektor. Di tingkat Nasional, kegiatan yang dilakukan baik di Pusat maupun Daerah dilaporkan ke WHO sebagai bukti partisipasi untuk mewujudkan 1.000 kota, 1.000 kehidupan.

Di tingkat Nasional acara puncak diselenggarakan di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten yang akan dihadiri para menteri, perwakilan WHO di Indonesia, masyarakat peduli kesehatan dan dunia usaha.

Sementara di tingkat Provinsi, Kabupaten/ Kota peringatan HKS ke-62 dperingati dengan berbagai kegiatan, diantaranya pemberlakuan Hari Tanpa Kendaraan Bermotor di jalan-jalan utama, perluasan Kawasan Tanpa Rokok di sekolah, pelayanan kesehatan, tempat kerja dan tempat umum lainnya seperti restoran dan tempat ibadah. Pengelolaan pasar sehat, penanaman pohon bagi setiap rumah tangga, penyediaan jalan untuk pengguna sepeda, memperluas ruang publik untuk taman bermain dan olah raga, pemilihan sampah basah dan sampah kering di rumah tangga serta menggiatkan olah raga.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail 








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.