SERING MENGUAP PERTANDA APA ?

25 08 2009

Melihat orang menguap saat sedang rapat mungkin kita berpikiran dia sedang bosan. Ternyata menguap itu sinyal dari tubuh mulai dari yang biasa hingga masalah serius.

Seperti dikatakan Joan Liebmann-Smith Ph.D dan Jacqueline Nardi Egan yang dikutip dari tulisannya Body Sign, How to Be Your Own Diagnostic Detective, Selasa (25/8/2009) orang-orang menguap untuk berbagai macam alasan, tapi menguap juga tidak selalu berarti mengantuk.

Ilmuwan percaya menguap dapat membantu seseorang menjadi lebih waspada untuk segera memasukkan oksigen ke otak. Karena menguap adalah salah satu tanda jumlah oksigen di dalam otak sedang menurun yang bisa membuat seseorang sulit konsentrasi.

Namun ilmuwan lain beranggapan menguap justru membantu mengatur suhu tubuh. Dengan menguap maka terjadi proses menaikkan tekanan darah dan laju jantung.

Umumnya menguap adalah aktivitas yang tidak berbahaya atau malah sekedar tanda seseorang sedang bosan. Tapi menguap juga bisa pertanda ada suatu kondisi medis yang serius.

Orang-orang yang memiliki penyakit saraf seperti penyakit Multiple Sclerosis dan Amyotropic Lateral Sclerosis (ASL) menguap lebih banyak dari orang normal.

Orang yang memiliki penyakit darah rendah dengan tekanan darah 90/60 mmHg juga cenderung sering menguap yang diikuti pula dengan mengantuk. Tekanan darah yang normal adalah 120/80 mmHg. Selain sering menguap orang yang memiliki tekanan darah rendah juga sering pusing, cepat lelah dan penglihatan kabur.

Tekanan darah rendah membuat kurangnya darah yang dipompa dari jantung dan jika darah yang dipompa oleh jantung semakin sedikit maka semakin rendah tekanan darahnya. Akibatnya jantung atau otak kekurangan pasokan oksigen dalam darah sehingga membuat seseorang sering menguap, pusing dan lelah.

Kadang-kadang banyak menguap juga akibat reaksi dari terapi radiasi untuk kanker dan juga konsumsi obat-obatan seperti untuk pengobatan penyakit parkinson.

Beberapa antidepresan seperti paroxetine (Paxil) dan setraline (Zoloft) juga bisa menyebabkan menguap berlebihan. Yang menarik justru penderita skizofrenia (kelainan saraf) adalah orang yang jarang menguap.

Fakta penting lagi, hampir semua makhluk vertebrata selalu menguap. Bahkan janin manusia mulai menguap ketika berusia 11 minggu.

Uniknya beberapa pasien di luar negeri mengaku bahwa setiap kali mereka menguap mereka seperti mengalami orgasme spontan. Seorang perempuan bahkan menjadi sangat mahir merasakan orgasme dengan menguap.

Sumber : health.detik.com, 25/8/09





Pemberian ASI Kurangi Penyakit Kanker

11 08 2009

Risiko seorang wanita terkena kanker payudara memang lebih tinggi bila salah satu anggota keluarganya terkena kanker. Karena itu wanita dalam kelompok ini sangat disarankan untuk memberikan bayinya air susu ibu (ASI).

Dalam studi jangka panjang terhadap 60.000 wanita, diketahui wanita yang memiliki riwayat kanker payudara di keluarga dekatnya (ibu atau saudara perempuan), mengalami penurunan risiko yang sangat signifikan bila mereka menyusui bayinya.

“Menyusui bukan hanya baik untuk bayi tapi juga si ibu,” kata ketua peneliti Dr.Alison M.Stuebe dari Universitas North Carolina, Chapel Hill, AS.

Kesimpulan studi ini diperoleh dari penelitian terhadap 60.075 perawat yang baru melahirkan dan berpartisipasi dalam studi Nurse’s Health Study yang berlangsung antara tahun 1997 dan 2005.

Pada akhir Juni 2005 diketahui ada 608 wanita (sekitar satu persen) yang menderita kanker payudara di usia sekitar 46 tahun. Selain itu para peneliti juga melaporkan, wanita yang keluarga dekatnya menderita kanker payudara, risikonya berkurang hingga 59 persen bila mereka menyusui bayinya.

Penurunan risiko terkena kanker ini lebih terlihat pada wanita yang punya risiko sangat tinggi dan melakukan terapi hormon untuk pencegahan kanker payudara. Sedangkan pada wanita yang tidak memiliki riwayat kanker tidak diketahui adanya hubungan antara menyusui dan kejadian kanker.

Meski demikian, Stuebe menemukan bahwa wanita yang tidak menyusui namun mengonsumsi obat untuk menekan produksi air susunya, memiliki risiko kanker 42 persen lebih rendah bila dibanding dengan wanita yang tidak menyusui atau tidak menggunakan obat untuk menekan produksi ASI.

Menurut peneliti, bila seorang wanita tidak menyusui, jaringan di payudaranya akan kembali seperti pada saat sebelum hamil dan hal ini bisa menyebabkan terjadinya peradangan. Peradangan yang berlangsung sangat progresif diketahui berkaitan dengan kanker payudara.

“Hipotesa kami, wanita yang menyusui atau mengonsumsi obat penekan produksi ASI akan mencegah terjadinya peradangan,” kata peneliti dalam laporannya yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Archieves of Internal Medicine.

Sayangnya, masih ada sebagian wanita yang menganggap memberikan ASI kepada bayi sering dianggap ketinggalan zaman dan merusak bentuk tubuh.





Masyarakat Tidak Perlu Ragu Melakukan Imunisasi

5 08 2009

Imunisasi merupakan upaya medis untuk mencegah terjadinya suatu penyakit. Dalam agama Islam, imunisasi sah menurut hukum (absah secara syar’i) sehingga masyarakat tidak perlu ragu untuk melakukan imunisasi sepanjang materi atau bahan yang digunakan tidak berupa unsur yang haram. Demikian disampaikan Dr. H.M. Asrorun Ni’am Sholeh, MA dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Seminar yang diprakarsai Studi Islam Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Senin, 3 Agustus 2009, di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta.

Program imunisasi terbukti menurunkan angka kesakitan dan kematian karena infeksi pada bayi secara drastis. Namun, sering ada pendapat salah tentang imunisasi yang menimbulkan keraguan dan penundaan, bahkan penolakan. ”Padahal penundaan atau penolakan imunisasi akan membawa risiko terkena infeksi bagi anak bersangkutan”, kata dr. Hartono Gunardi, Sp. A (K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dengan makin banyak bayi atau anak yang mendapat imunisasi, penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi makin jarang terlihat. Di lain pihak, rasa ketakutan kepada efek samping vaksinasi yang berlebihan menjadi lebih dominan dibandingkan ketakutan terhadap penyakitnya, kata Prof. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sp. A (K), Ketua Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia.

”Selama ini banyak persepsi yang salah tentang imunisasi dimata masyarakat. Mulai dari imunisasi menyebabkan anak menjadi demam, imunisasi itu berbahaya, bisa menyebabkan kesakitan dan bahkan kematian. Pendapat itu tidak benar sama sekali. Vaksin yang diberikan dalam imunisasi merupakan produk yang sangat aman. Hampir semua efek samping vaksin bersifat ringan (minor) dan sementara seperti pegal di lengan atau demam ringan. Berdasarkan hasil penelitian Institute of Medicine tahun 1994 menyatakan bahwa risiko kematian akibat imunisasi adalah amat rendah”, ujar dr. Hartono.

” Pendapat yang salah tentang imunisasi perlu diketahui dan diantisipasi agar pemberian vaksin terhadap anak tetap berjalan dengan baik”, tambah dr. Hartono.

Anak harus mendapat imunisasi karena dua alasan, yaitu anak harus dilindungi dan imunisasi dapat melindungi anak-anak di sekitarnya yang tidak mendapatkan imunisasi apabila cakupan imunisasi tinggi, kata dr. Hartono.

Anggapan bahwa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi sudah tidak ada di negara kita sehingga tidak perlu imunisasi, juga tidak benar. ” Angka kejadian sejumlah penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi telah menurun drastis di Indonesia. Namun, pelancong (wisatawan) dapat membawa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti polio, campak, hepatitis B dan lain-lain serta menimbulkan wabah di Indonesia, tambah dr. Hartono.

Cegah Infeksi.

Apabila anak mendapat vaksinasi, 80-95 persen akan terhindar dari infeksi berat dan ganas. Makin banyak bayi atau anak mendapatkan imunisasi, kian berkurang penularan penyakit sehingga menurunkan angka kesakitan dan kematian, ujar Prof. Sri Rezeki.

Program imunisasi di Indonesia diselenggarakan sejak tahun 1956, yaitu dengan pemberian imunisasi cacar. Selanjutnya pada tahun 1973 dimulai pemberian imunisasi BCG, diikuti pemberian imunisasi TT pada ibu hamil pada tahun 1974 dan imunisasi DPT untuk bayi pada tahun 1976. Mulai tahun 1977, upaya imunisasi diperluas sesuai dengan anjuran WHO sebagai upaya global dalam rangka pencegahan penularan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi yaitu tuberkulosis, difteri, pertusis, campak, polio, tetanus serta hepatitis B.

Imunisasi rutin diberikan kepada bayi 0-11 bulan, anak sekolah, dan ibu hamil serta calon pengantin wanita. Pelayanan imunisasi rutin dapat dilaksanakan di beberapa tempat, antara lain Puskesmas/Puskesmas Pembantu, Rumah Sakit, klinik KIA, dan praktek dokter/bidan swasta.

Penyelenggaraan program imunisasi di Indonesia mengacu pada kesepakatan internasional The Millennium Development Goals (MDGs) pada tahun 2003 yang meliputi target ke-4 tentang penurunan angka kematian anak, dengan salah satu indikatornya adalah mereduksi kematian akibat campak pada anak usia <5 tahun menjadi dua pertiga pada tahun 2015 dibanding kondisi tahun 1990.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-52907416 – 19 dan 021-52921669, atau melalui alamat e-mail: puskom.depkes@gmail.com dan puskom.publik@yahoo.co.id.





43 Tambahan Kasus Baru Influenza A H1N1

5 08 2009

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Depkes melaporkan tambahan kasus baru positif influenza A H1N1 sebanyak 43 orang terdiri dari 20 laki-laki dan 23 perempuan. Mereka berasal dari 9 provinsi : Banten (2 kasus), DKI Jakarta (17 kasus), Jawa Barat (3 kasus), Jawa Timur (1 kasus), Kalimantan Selatan (11 kasus), Kalimantan Timur (1 Kasus), Riau (6 kasus), Sulawesi Selatan (1 kasus) dan Sumatera Utara (1 kasus), kata Prof. dr. Agus Purwadianto, SH, Sp. FK, Kepala Badan Litbangkes.

Ke 43 orang tersebut adalah Warga Negara Indonesia. Tiga puluh enam orang tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri, 3 orang memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri (Malaysia, Thailand dan Singapura) dan 4 kasus tidak jelas riwayat perjalanannya.

Sementara itu Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp. P (K), MARS, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes menambahkan, sampai tanggal 5 Agustus 2009 sudah 20 provinsi ditemukan kasus positif influenza A H1N1, yaitu yaitu: Bali, Banten, Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepri, Sulawesai Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Tengah, Lampung, Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Barat. Dengan demikian, secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 di Indonesia, adalah 662 orang terdiri dari 354 laki-laki dan 298 perempuan. Pasien meninggal dunia dua orang, pasien pertama, laki-laki usia 55 tahun, WNA meninggal tgl. 2 Agustus. Masuk RS dengan keluhan batuk dan demam, dalam perawatan pasien bertambah sesak dan meninggal dunia dengan pneumonia berat. Pasien kedua, seorang perempuan usia 2 tahun, WNI meninggal tgl. 3 Agustus. Pasien ini memiliki berbagai penyakit dasar sebagai predisposisi. Ketika masuk RS dengan keluhan sesak dan demam kemudian memburuk dengan cepat dan akhirnya meninggal dunia dengan pneumonia yang luas, tambah Prof. Tjandra. Ditambahkan, sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO (11/06/2009), di seluruh dunia sampai 27 Juli 2009 tercatat 134.503 orang positif terkena influenza A H1N1. Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat. Masyarakat mempunyai andil besar dalam mencegah penularannya yaitu dengan berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Diantaranya, mencuci tangan dengan sabun atau antiseptik, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra. Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner dan Health Alert Card wajib diisi); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR). Disamping itu juga dilakukan community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu perawatan di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom. depkes.go.id.





Hati-hati, Ikan Asin Dapat Sebabkan Kanker Nasofaring!

3 08 2009

BIASANYA, gairah makan bertambah kalau ada ikan asin. Masalahnya, terlalu banyak makan ikan asin, apalagi dalam waktu yang cukup lama bisa berakibat tak baik. Salah satunya adalah kanker nasofaring.

Nasofaring adalah daerah berbentuk kubus yang terletak di belakang hidung. Bagian depannya berbatasan dengan rongga hidung, bagian atasnya berbatasan dengan dasar tenggorokan, dan bagian bawahnya merupakan langit-langit dan rongga mulut.

“Ruang kecil antara hidung mulut dan telinga itu dinamakan fossa rosenmulleri,” terang dr Cita Herawati Murjantyo, Sp.THT dari Rumah Sakit Darmais, Jakarta Selatan.

Kanker nasofaring merupakan kanker ganas dan terjadi hampir 60 persen. Setelah itu tumor ganas di hidung dan sinus paranasal sebanyak 18 persen, laring 16 persen, lalu tumor ganas rongga mulut, tonsil, dan hipofaring dalam prosentase rendah.

“Nasofaring ini memang banyak diderita oleh warga Asia karena memang genetikanya seperti itu,” sambungnya.

Faktor Penyebab

Menurut dr Cita, penyebab umum kanker karena pertumbuhan sel kanker yang tidak terkontrol. Sel kanker muncul karena virus-virus. Kanker dapat juga timbul karena faktor keturunan atau genetik, lingkungan, dan juga virus.

Terlalu banyak mengonsumsi ikan asin secara terus-menerus dapat menyebabkan kanker nasofaring. Ikan asin merupakan mediator utama yang dapat mengaktifkan virus Epstein-Barr sehingga menimbulkan kanker nasofaring. Virus Epstein-Barr ini berperan penting menyebabkan terjadinya kanker nasofaring. Virus yang hidup bebas di udara ini masuk ke dalam tubuh dan tinggal di nasofaring tanpa menimbulkan gejala.

Virus ini kemudian diaktifkan oleh ikan asin. “Bumbu masak tertentu dan makanan yang terlalu panas pun bisa menjadi pencetus,” terang dr Cita. Orang, yang keluarganya punya riwayat kanker nasofaring, besar kemungkinan mengidap kanker yang sama.

Faktor pencetus lain yang dapat menimbulkan kanker nasofaring adalah rokok dan alkohol. “Kedua barang ini sangat berpotensi menimbulkan kanker nasofaring,” tambahnya. Lingkungan dengan ventilasi yang kurang baik, asap dupa, kontak dengan zat karsinogen (seperti pada pekerja pabrik bahan kimia), ras, keturunan, dan radang kronis pun dapat menyebabkan kanker nasofaring.

Gejala-gejala

Gejala kanker ini tergantung pada edarajat penyebaran dan lokasi tumbuhnya tumor. Gejala kanker nasofaring dapat dibagi menjadi empat kelompok. Pertama, gejala nasofaring itu sendiri. Gejalanya biasanya berupa mimisan ringan dan hidung tersumbat. Gejala ini menunjukkan bahwa kanker nasofaring masih pada stadium awal.

Gejala kedua, gejala yang timbul dari dan pada daerah telinga. Misalnya, telinga berdengung, terasa tidak nyaman, dan nyeri. Ini merupakan gejala dini yang timbul karena tempat asal tumor dekat dengan muara tuba Eustachius atau saluran penghubung hidung dan telinga.

Gejala ketiga, gejala yang terjadi pada mata dan saraf. Ini bisa jadi merupakan gejala lanjut karena nasofaring dekat dengan rongga tengkorak tempat lewatnya saraf otak. Gejalanya sendiri dapat berupa nyeri kepala, nyeri di bagian leher dan wajah (neuralgiatrigeminal), pandang kabur, dan diplopia atau penglihatan ganda. Diplopia adalah gangguan penglihatan yang mana objek terlihat dobel atau ganda.

Gejala keempat, gejala metastasis atau menyebar atau gejala di leher. Biasanya berupa bengkak di leher karena pembengkakan kelenjar getah bening.

“Jika sudah sampai terlihat benjolan, itu harus hati-hati karena sudah masuk stadium 2 ke atas,” katanya.

Diagnosa dan Pengobatan

Seperti pada umumnya, dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan tentang tanda dan gejala yang dialami si penderita. Setelah itu, dokter akan menekan bagian leher, dimana terdapat kelenjar getah bening yang bengkak. Beberapa tanda dan gejala dari kanker ini memang tidak terlalu spesifik.

Jika dicurigai terjadinya kanker, dokter akan menggunakan endoskop untuk melihat nasofaring yang abnormal tersebut. Pada tahap ini diperlukan anestesi lokal. Setelah itu, diambil biopsy atau sample untuk mengetahui apakah itu kanker atau tidak. Kemudian  diuji dengan MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk menentukan stadium, lalu CT scan untuk melihat kanker yang menyebar di bagian paru-paru.

Ada 4 stadium 0, yaitu sel-sel kanker masih berada dalam batas  nasofaring. Biasa disebut dengan nasofaring in situ. Kedua, stadium 1, di mana sel kanker menyebar di bagian nasofaring. Ketiga, stadium 2, di mana sel kanker sudah menyebar ke rongga hidung. Atau dapat pula menyebar ke kelenjar getah bening pada salah satu sisi leher. Ketiga, stadium 3. Di sini kanker sudah menyerang kelenjar getah bening di leher. Dan keempat, stadium 4. Pada stadium ini, kanker sudah menyebar ke saraf dan tulang di sekitar wajah.

Ada beberapa macam pengobatan terhadap kanker nasofaring, antara lain, terapi radiasi, kemoterapi, dan pembedahan. Radiasi adalah terapi yang dapat merusak sel-sel kanker dengan cepat. Terapi ini dilakukan selama 5-7 minggu pada stadium awal. Efek samping terapi ini adalah mulut terasa kering, kehilangan pendengaran, dan memperbesar sel-sel kanker pada lidah dan tulang.

Kemoterapi merupakan terapi dengan bantuan obat-obatan. Terapi ini bekerja dengan cara mereduksi sel-sel kanker yang ada. Tapi adakalanya sel-sel yang sehat, alias yang tidak terkena kanker, juga terinduksi. Efek samping dari terapi ini adalah rambut rontok, mual, lemas seperti kehilangan tenaga. Terakhir adalah pembedahan atau operasi untuk mengambil kelenjar getah bening  yang telah terkena kanker.

(Sumber : okezone.com, 4/8/09)





Menkes: Penderita Flu Babi 561 Orang

3 08 2009

Pandemi influenza A-H1N1 telah menjangkiti 18 provinsi di Indonesia. Jumlah penderita virus maut ini pun terus bertambah menjadi 561 orang.

“Kasus positif influenza A-H1N1 secara kumulatif sampai tanggal 2 Agustus 2009, sebanyak 561 kasus dengan rincian 308 laki-laki dan 253 perempuan dan meninggal 1 orang,” kata Menkes Siti Fadilah Supari.

Hal ini disampaikan dia saat memberikan sambutan pelantikan Pemuda Siaga Peduli Bencana (Dasipena) DKI Jakarta di Lapangan Irti, Monas, Jakarta Pusat, Selasa (4/8/2009).

Dikatakan dia, kasus influenza A-H1N1 ditemukan di 18 provinsi yakni DKI Jakarta, Bali, Banten, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Tengah dan Lampung.

Dalam kesempatan itu, Menkes juga memaparkan data dari Pusat Penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan tentang bencana yang melanda sepanjang tahun 2006 hingga Juli 2009.

Terjadi peningkatan frekuensi kejadian bencana. Pada tahun 2006 ada 162 kejadian bencana dengan 7.618 korban meninggal dunia.

Tahun 2007, terjadi 205 kejadian bencana dan menelan korban jiwa 766 orang. Tahun 2008 ada 456 kejadian bencana dengan 337 korban tewas. Tahun 2009, tercatat 204 bencana dengan 233 korban jiwa.

“Ini baru setengah tahun. Peningkatan bencana tidak diikuti dengan peningkatan jumlah korban karena penanggulangan dan kesiapsiagaan pemerintah pusat dan daerah semakin baik,” kata Menkes.

(Sumber : detik.com, 4/8/2009)





Ibu Indonesia Teruslah Menyusui

3 08 2009

MENYUSUI bayi dengan ASI dapat mencegah kematian 1,3 juta bayi setiap tahun.Selain kekebalan tubuh bayi lebih baik, ibu pun berisiko lebih rendah terkena kanker payudara.

Pekan ini, tepatnya 1-7 Agustus mendatang, masyarakat di seluruh dunia menggemakan Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week). Ini merupakan upaya global untuk terus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menyusui bayi dengan ASI (air susu ibu) hingga 6 bulan. Hingga kini di seluruh dunia hanya terdapat kurang dari 40 persen ibu yang menyusui bayinya hingga 6 bulan sesuai anjuran WHO.

Banyak di antara para ibu yang menyerah dan patah arang karena tidak tahu bagaimana cara menyusui yang baik, misalnya cara perlekatan yang tepat. Ada pula yang beralasan sakit atau tidak nyaman saat menyusui. Sungguh ironis karena hal-hal demikian sesungguhnya tidak perlu terjadi jika saja para ibu mau bertanya atau mencari informasi tentang manajemen menyusui (laktasi) yang baik. Padahal menurut WHO, mengajari para ibu baru tentang cara menyusui dapat menyelamatkan 1,3 juta anak dari kematian setiap tahun.

“Meningkatkan hingga 90 persen angka menyusui global untuk bayi hingga usia 6 bulan dapat menyelamatkan sekitar 13 persen dari 10 juta kematian balita setiap tahunnya,” kata staf ahli WHO, Constanza Vallenas.

Vallenas berpandangan, kurangnya jumlah praktisi menyusui menjadi salah satu kendala, baik di negara maju maupun negara-negara miskin. Untuk itu, ia mengharapkan adanya lebih banyak petugas di rumah sakit, klinis maupun komunitas yang membantu memberikan penyuluhan bagi para ibu ataupun calon ibu baru tersebut.

Sementara itu, dalam pernyataan terkait Pekan Menyusui Dunia 1-7 Agustus, Dirjen WHO Margaret Chan juga menekankan pentingnya memberikan dukungan bagi para ibu di daerah bencana untuk memulai kembali menyusui bayinya. Acapkali saat terjadi bencana dan setelahnya, aktivitas menyusui tergantikan dengan banyaknya bantuan yang datang, salah satunya susu formula.

Hal ini tidak boleh terus berlanjut karena menghentikan pemberian ASI dapat membuat bayi lebih berisiko terkena penyakit. “Fokusnya tetap aktif melindungi dan mendukung kegiatan menyusui,” sebut Chan.

Sejak 2004, berdasarkan 3.000 lebih penelitian, WHO menyarankan pemberian ASI eksklusif pada satu jam pertama setelah lahir dan meneruskannya hingga 6 bulan. ASI adalah fondasi imunitas bagi bayi. Bahkan, kolostrum yang dihasilkan beberapa hari menjelang kelahiran hingga 4-5 hari pasca-melahirkan, kaya akan protein dan mineral untuk membantu merangsang kekebalan tubuh bayi.

Dengan daya tahan tubuh kuat, anak terhindar dari berbagai penyakit seperti diare dan radang paru (pneumonia). Manfaat yang sama tidak akan didapat jika ibu hanya memberi bayi susu formula. Sayangnya, banyak para ibu yang masih ragu dan bertanya-tanya bagaimana bayi dapat tumbuh dan berkembang optimal hanya dengan minum ASI selama 6 bulan. Padahal, selain memasok nutrisi dan mengoptimalkan kekebalan tubuh bayi, ASI juga paling aman bagi sistem pencernaan bayi yang masih sensitif.

Spesialis anak dan konsultan laktasi, Prof Dr Hj Rulina Suradi SpA(K) IBCLC, menjelaskan, saluran cerna merupakan salah satu organ terpenting dalam pertumbuhan. Sekira 80 persen sel pada saluran cerna menghasilkan antibodi dan 40 persen jaringan cerna disusun oleh jaringan limfoid yang disebut Gut AssociatedTyphoidTissue (GALT).

“Kedua komponen ini sangat berperan bagi imunitas tubuh manusia. Di lain pihak, saluran cerna merupakan organ yang kerap terpapar lingkungan luar dengan masuknya makanan maupun mikroorganisme,” ujarnya.

Secara fisiologis, janin aman dan steril dari mikroorganisme selama dalam kandungan. Namun, beberapa jam setelah dilahirkan, bayi bisa terpapar kuman. Untuk menangkalnya, bayi sebaiknya diberikolostrum (disusui) segera setelah lahir. Ini penting karena kolostrum akan menutup reseptor yang ada dalam saluran pencernaan.

“Bayi yang mendapat ASI eksklusif saluran cernanya didominasi bifidobacteri, sejenis bakteri ‘baik’. Hal ini tidak terlihat pada bayi yang diberi susu formula,” ungkapnya.

Sementara itu, banyak penduduk Amerika yang salah beranggapan bahwa susu formula itu sama baiknya dengan ASI. Kondisi ini diperburuk dengan adanya sejumlah ibu yang enggan atau malu memberi ASI kepada anaknya saat berada di tempat umum.
“Temuan ini membuktikan bahwa diperlukan pemahaman dan penanaman kesadaran kepada masyarakat luas tentang pemberian ASI sebagai makanan terbaik untuk perkembangan bayi,” ujar Dr Rowe Li dari the Centers for Disease Control and Prevention (CDCP) Amerika. Li yang juga seorang peneliti menekankan bahwa banyak manfaat yang diperoleh dari pemberian ASI.

(Sumber : okezone.com, 3 Agustus 2009)





Manajemen Laktasi yang Baik

3 08 2009

MANAJEMEN laktasi merupakan segala daya upaya yang dilakukan untuk membantu ibu mencapai keberhasilan dalam menyusui bayinya.

Usaha ini dilakukan terhadap ibu dalam 3 tahap,yakni pada masa kehamilan (antenatal), sewaktu ibu dalam persalinan sampai keluar rumah sakit (perinatal), dan pada masa menyusui selanjutnya sampai anak berumur 2 tahun (postnatal). Bagaimana mengelola ketiga periode penting ini dengan baik? Berikut langkah-langkah yang dikemukakan Spesialis Kebidanan Dr Harini Susiana SpOG:

Periode Antenatal:

1. Meyakinkan diri sendiri akan keberhasilan menyusui dan bahwa ASI adalah amanah Ilahi.
2. Makan dengan teratur, penuh gizi dan seimbang.
3. Mengikuti bimbingan persiapan menyusui yang terdapat di setiap klinik laktasi di rumah sakit.
4. Melaksanakan pemeriksaan kehamilan secara teratur.
5. Menjaga kebersihan diri, kesehatan, dan cukup istirahat.
6. Mengikuti senam hamil.

Periode Perinatal:

1. Bersihkan puting susu sebelum anak lahir.
2. Susuilah bayi sesegera mungkin, jangan lebih dari 30 menit pertama setelah lahir (inisiasi dini).
3. Lakukan rawat gabung, yakni bayi selalu di samping ibu selama 24 jam penuh setiap hari.
4. Jangan berikan makanan atau minuman selain ASI.
5. Bila dalam 2 hari pertama ASI belum keluar, berikan bayi air putih masak dengan menggunakan sendok.
6. Jangan memberikan dot maupun kempengan karena bayi akan susah menyusui, di samping mengganggu pertumbuhan gigi. 7. Susuilah bayi kapan saja dia membutuhkan, jangan dijadwal. Susuilah juga bila payudara ibu terasa penuh. Ingatlah bahwa makin sering menyusui, makin lancar produksi dan pengeluaran ASI.
8. Setiap kali menyusui,gunakanlah kedua payudara secara bergantian. Yakinkan bahwa payudara telah kosong atau bayi tidak lagi mau mengisap.
9. Mintalah petunjuk kepada petugas rawat gabung, bagaimana cara menyusui yang baik dan benar.

Periode Postnatal:

1. Berikan ASI saja sampai bayi berumur 6 bulan atau penyusuan eksklusif dan teruskan pemberian ASI sampai bayi berumur 2 tahun.
2. Berikan makanan pendamping ASI saat bayi mulai berumur 6 bulan.

(Sumber : okezone.com, 3 Agustus 2009)





Tambahan Kasus Baru Positif Influenza A H1N1 dari Kalteng dan Lampung

2 08 2009

Hari Minggu (02/08/09), Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Depkes melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 41 orang terdiri 17 laki-laki dan 24 perempuan. Mereka berasal dari 11 provinsi: Bali (3 kasus), Banten (4 kasus), DKI Jakarta (8 kasus), Jawa Tengah (2 kasus), Jawa Timur (1 kasus), Kalimantan Selatan (1 kasus), Kalimantan Tengah (3 kasus), Lampung (16 kasus), Riau (1 kasus), Sulawesi Selatan (1 kasus) dan Sulawesi Utara (1 kasus). Dari jumlah itu, 36 orang adalah Warga Negara Indonesia dan 5 orang WNA. Tiga puluh tujuh orang tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri, 3 orang memiliki riwayat ke luar negeri (Amerika Serikat) dan 1 kasus tidak jelas riwayat perjalanannya, kata Prof. dr. Agus Purwadianto, SH, M.Si., Sp.FK, Kepala Badan Litbangkes Depkes. Sementara itu Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp. P (K), MARS, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes menambahkan, laporan tambahan kasus baru positif influenza A H1N1 bearasal dari Provinsi Kalimantan Tengah dan Lampung. Dengan demikian, sampai tanggal 2 Agustus 2009 sudah 18 provinsi ditemukan kasus positif influenza A H1N1, yaitu yaitu: Bali, Banten, Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepri, Sulawesai Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Tengah dan Lampung. Dengan demikian, secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 di Indonesia, adalah 561 orang terdiri dari 308 laki-laki dan 253 perempuan. Ditambahkan, sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO (11/06/2009), di seluruh dunia sampai 27 Juli 2009 tercatat 134.503 orang positif terkena influenza A H1N1. Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat. Masyarakat mempunyai andil besar dalam mencegah penularannya yaitu dengan berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Diantaranya, mencuci tangan dengan sabun atau antiseptik, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra. Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner dan Health Alert Card wajib diisi); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR). Disamping itu juga dilakukan yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu perawatan di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.





PELAYANAN KESEHATAN DASAR

29 07 2009

KUNJUNGAN PASIEN KE PUSKESMAS TAHUN 2008

Kunjungan rawat jalan di 40 Puskesmas :

- Tahun 2007 : 950.697 kunjungan (rata-rata kunjungan per puskesmas per hari : 83 kunjungan)

- Tahun 2008 : 414.877 kunjungan (rata-rata kunjungan per puskesmas per hari : 40 kunjungan)

Kunjungan rawat inap di 8 puskesmas DTP :

- Tahun 2007 : 6.517 orang (rata-rata setiap puskesmas DTP melayani 815 pasien rawat inap dalam satu tahun)

- Tahun 2008 : 9.261 orang (rata-rata setiap puskesmas DTP melayani 1.158 pasien rawat inap dalam satu tahun)

Rawat Inap DTP

PELAYANAN IBU HAMIL DI PUSKESMAS

Kunjungan pemeriksaan kehamilan tahun 2008 : 49.004 orang ibu hamil

- Kunjungan pertama (K1) : 75,31%

- Kunjungan berikutnya (K4) : 64,95%

K1 & K4

PELAYANAN PERSALINAN

Jumlah ibu hamil tahun 2008 : 49.004 orang

jumlah persalinan : 47.190 persalinan

Dari seluruh persalinan yang terjadi, persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan :

Salinakes

RUJUKAN IBU HAMIL RISIKO TINGGI

Dari 49.004 ibu hamil yang ada terdapat 3.986 ibu hamil (40,67%) memiliki risiko tinggi dan diantaranya 198 ibu hamil (0,47%) yang berisiko tinggi tersebut dilakukan rujukan.

KUNJUNGAN NEONATUS

Cakupan kunjungan neonatal (KN) adalah prosentase neonatal (bayi kurang dari satu bulan) yang memperoleh pelayanan kesehatan minimal dua kali dari tenaga kesehatan, satu kali pada umur 0-7 hari dan satu kali pada umur 8-28 hari.

Cakupan kunjungan neonatal yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya :

- Tahun 2006 : 70,91%

- Tahun 2007 : 75,77 %

- Tahun 2008 : 77,78% dari jumlah neonatus sebanyak 41.746 orang

KUNJUNGAN BAYI

Cakupan kunjungan bayi di Kabupaten Tasikmalaya :

- Tahun 2007 : 71,85% (dari 37.804)

- Tahun 2008 : 76,59% (dari 38.113)